Modal Asing Masuk Tembus Rp 226 Triliun, BI: Investor Nyaman di RI

Penulis: Agustiyanti

8/11/2019, 20.28 WIB

Modal asing antara lain mengalir masuk ke Surat Berharga Negara sebesar Rp 175 triliun, saham sebesar Rp 49 triliun.

aliran modal asing
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sejak awal tahun hingga 7 November 2019 mencapai Rp 226 triliun.

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sejak awal tahun hingga 7 November 2019 mencapai Rp 226 triliun.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, aliran modal asing tersebut masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp175 triliun dan saham sebesar Rp49 triliun. Lalu sisanya, menurut dia, mengalir ke obligasi korporasi serta instrumen keuangan lainnya.

"Inflow Rp226 triliun, sebagian besar berasal modal asing mengalir ke SBN," ujar Dody di Jakarta, Jumat (8/11).

Menurut Dody, derasnya aliran masuk modal asing seiring meredanya tekanan ekonomi global. Hal ini membuat investor "nyaman" untuk menaruh investasinya di negara-negara berkembang. Selain itu, fundamental ekonomi juga membaik, sehingga investor menjadikan Indonesia sebagai pilihan dibanding negara-negara ekonomi sepadan (peers) lainnya.

(Baca: Rujuk Sesaat, AS Tuding Tiongkok Lakukan Propaganda Pembatalan Tarif)

Ia menjelaskan, faktor global yang turut mempengaruhi, yakni kabar positif dari kesepakatan dagang tahap pertama antara AS dan Tiongkok yang kian dekat dan membawa harapan berakhirnya perang dagang antara kedua negara. Selain itu, ketegangan mengenai Brexit di Eropa juga mereda.

Kondisi global tersebut juga menyokong penguatan nilai tukar rupiah pada pekan ini sebesar 0,3 persen. Sedangkan sepanjang tahun ini hingga kemarin, rupiah telah menguat sebesar 2,6 persen.

"Investor global mulai mencari-cari untuk melihat imbal hasil yang tinggi, termasuk ke Indonesia. Kalau dilihat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik karena berbalik dengan harga," kaya dia.

(Baca: Cadangan Devisa Turun, Neraca Pembayaran Kuartal III Minus US$ 46 Juta)

Dari sisi domestik, menurut Dody, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III 2019 yang sebesar 5,02 persen berada di atas ekseptasi para pelaku pasar.

Bertambahnya cadangan devisa hingga 126,7 miliar pada Oktober 2019, dinilai Dody menambah kepercayaan investor terhadap Indonesia. Demikian juga dengan data defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran pada kuartal III 2019 yang membaik dibanding kuartal sebelumnya yang baru dirilis BI.

"Perkembangan terakhir rupiah relatif stabil dan bahkan kemarin ada di Rp 13.990 per dolar AS. Ini menggambarkan kinerja yang bagus dari rupiah," jelas Dody.

Sementara itu, berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) yang diolah Katadata periode 2 Januari-30 September 2019, investasi di pasar obligasi terlihat lebih menguntungkan dibanding saham, seperti terlihat pada grafik di bawah ini.

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan