Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama Bergelar Pahlawan Nasional

Penulis: Sorta Tobing

8/11/2019, 19.34 WIB

Ruhana Kuddus mendapat gelar Pahlawan Nasional. Ia merupakan pelopor pergerakan perempuan dan jurnalis perempuan pertama Indonesia.

ruhana kuddus, rohana kudus, pahlawan nasional, kahar muzakir, aa maramis, jokowi beri gelar pahlawan nasional
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Ahli waris memegang plakat gelar pahlawan nasional saat penganugerahan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/11/2019). Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh, yaitu anggota BPUPKI/PPKI Abdul Kahar Mudzakkir, Alexander Andries Maramis dan KH Masykur, tokoh jurnalisme dan pendidikan asal Sumatera Barat Ruhana Kuddus, Sultan Himayatuddin asal Sulawesi Tenggara, dan tokoh bidang kedokteran serta pendidikan Prof Dr M Sardjito.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi gelar Pahlawan Nasional pada enam tokoh di Istana Negara Jakarta pada siang tadi, Jumat (08/11). Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 120/TK/Tahun 2019 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Mereka yang mendapat gelar pahlawan itu yakni Abdul Kahar Mudzakkir, Alexander Andries (AA) Maramis, KH Masjkur, M Sardjito, Ruhana Kuddus, dan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi.

Salah satu tokoh yang diberi gelar Pahlawan Nasional adalah Ruhana Kuddus. Ia merupakan pelopor pergerakan perempuan dan jurnalis perempuan pertama Indonesia. Beliau lahir di Koto Gadang, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884.

Hidup di era yang sama dengan Raden Ajeng Kartini, Ruhana saat kecil tak memiliki banyak akses untuk pendidikannya. Namun ia beruntung lahir dari keluarga terpandang. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintah yang mengajarinya banyak hal.

Karena itu, meskipun tak mendapat pendidikan formal, pada usia delapan tahun Ruhana sudah bisa membaca surat kabar dengan lantang. Ia fasih berbahasa Arab, Latin, Belanda, dan Arab Melayu. Sesuatu yang luar biasa bagi perempuan di zamannya.

Ketika ayahnya mendapat tugas ke Alahan Panjang, mereka bertetangga dengan seorang pejabat Belanda. Istri pejabat itu mengajari Ruhana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut. Ia juga mendapatkan pelajaran ilmu agama dari Buya Hamka.

Ia masuk ke dunia jurnalistik ketika bekerja di surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia (sekarang Jakarta). Koran ini merupakan media harian perempuan pertama di Indonesia.

(Baca: UGM Berjuang 9 Tahun Usulkan Sardjito Jadi Pahlawan Nasional )

Namun, nasib Poetri Hindia tak lama karena kena bredel Belanda. Ruhana kemudian mendirikan surat kabar Sunting Melayu pada 1911 dan menjabat sebagai pemimpin redaksinya.  Ia bekerja bersama redaktur dan penulis yang seluruhnya perempuan.

Perempuan yang kerap disapa One ini juga mendirikan sekolah kerajinan bernama Amai Setia. Ia memberi pendidikan untuk perempuan di Koto Gadang, termasuk di dalamnya membaca, menulis, berhitung, agama, dan keterampilan rumah tangga.

Yang membuat nama Amai Setia masyhur adalah kerajinan perak khas kota itu. Sampai sekarang sekolah ini masih ada. Oleh para pengurusnya kerap dijadikan tempat menjual kerajinan perak, selendang, dan museum sejarah Hindia Belanda di Sumatera Barat.

Darah pejuang mengalir dalam keluarga Ruhana. Kakak tirinya adalah Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama. Lalu, Ruhana juga merupakan mak tuo atau bibi dari penyair Chairil Anwar. Ia juga memiliki hubungan sepupu dengan Haji Agus Salim.  

Tulisannya pada saat pendudukan Belanda turut membantu pergerakan politik para pemuda Indonesia. Ruhana mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan.

Ia juga mencetuskan ide dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok. Senjata-senjata itu disembunyikan dalam tumpukan sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Di usia 88 tahun, tepatnya 17 Agustus 1972, Ruhana wafat. Sepanjang hidupnya, ia mengabdikan diri untuk kegiatan pendidikan, jurnalistik, bisnis, dan politik.

Gelar pahlawan nasional merupakan bentuk penghargaan tertinggi pemerintah untuk Ruhana. Sebelumnya ia juga mendapat gelar Wartawati Pertama Indonesia pada Hari Pers Nasional ke-3 pada 1974. Pada 6 November 2007, pemerintah menganugerahkannya Bintang Jasa Utama.

(Baca: Diawali Mengheningkan Cipta, Jokowi Beri 6 Tokoh Gelar Pahlawan )

Profil Penerima Gelar Pahlawan Nasional di 2019

Selain Ruhana, berikut lima tokoh lain yang mendapat gelar pahlawan di 2019:

1. Kahar Mudzakkir

Ia merupakan anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pria kelahiran Kotagede, Yogyakarta pada 1908 dan wafat pada 2 Desember 1973 itu juga menjadi perintis Universitas Islam Indonesia (UII).

2. Masjkur

Ia juga merupakan anggota BPUPKI. Pria kelahiran Desa Pagetan, Singosari, Malang, Jawa Timur pada 30 Desember 1902 ini dikenal pula sebagai tokoh dan ulama dari Nahdlatul Ulama (NU). Masjkur diketahui pernah menjabat sebagai Menteri Agama di tiga periode berbeda, yakni pada 1947-1949, 1949, dan 1953-1955.

3. AA Maramis

Tokoh dari Sulawesi Utara ini juga pernah menjadi anggota BPUPKI dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia lahir pada 20 Juni 1897.

Maramis menjabat sebagai Menteri Keuangan di empat periode berbeda, yakni pada 1945, 1947-1948, 1948, dan 1949. Dia juga pernah menjadi Menteri Luar Negeri pada 1948-1949.

Setelahnya, AA Maramis menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Jerman Barat, Uni Soviet, dan Finlandia.

(Baca: Jokowi Akan Beri 6 Tokoh Gelar Pahlawan, Ada Jurnalis Perempuan)

4. M Sardjito

Sardjito merupakan rektor pertama UGM pada 1950-1961, lalu menjabat sebagai rektor di UII pada 1961-1970. Selama ini, nama Sardjito juga telah diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat di Yogyakarta.

Ia dianggap sebagai peletak dasar Pancasila sebagai dasar perguruan tinggi di Indonesia. Sardjito juga dikenal sebagai pendiri Palang Merah Indonesia (PMI) dan banyak meneliti obat-obatan bagi rakyat maupun pejuang kemerdekaan.

5. Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi

Ia merupakan tokoh pertama dari Sulawesi Tenggara yang mendapat gelar pahlawan. Sepanjang hidupnya, ia menjadi Sultan Buton selama dua kali masa jabatan, yakni sultan ke-20 (1752-1755) dan sultan ke-23 (1760-1763).

Pemerintah memberinya gelar pahlawan karena kegigihannya melawan penjajah Belanda di Tanah Air. Bahkan, dia sampai harus sempat turun tahta akibat perlawanannya dulu.

Penulis: Amelia Yesidora (Magang)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan