Menteri ESDM Minta ConocoPhillips Tingkatkan Produksi Blok Corridor

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ameidyo Daud

11/11/2019, 21.12 WIB

Pasalnya, produksi gas bumi dari Wilayah Kerja Corridor merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.

Blok Corridor, ConocoPhillips, Menteri ESDM, Produksi migas
Pertamina Hulu Energi
Ilustrasi fasilitas migas lepas pantai. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Arifin Tasrif baru saja memperpanjang kontrak Blok Corridor selama 20 tahun ke depan kepada kontraktor eksisting yakni ConocoPhillips. Dia juga meminta perusahaan migas Amerika Serikat itu tak hanya menekan laju penurunan, namun mampu meningkatkan produksi gas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Arifin Tasrif baru saja memperpanjang kontrak Blok Corridor selama 20 tahun ke depan kepada kontraktor eksisting yakni ConocoPhillips. Dia juga meminta perusahaan migas Amerika Serikat itu tak hanya menekan laju penurunan, namun mampu meningkatkan produksi gas.

Kontrak bagi hasil dengan skema gross split blok ini berlaku selama 20 tahun terhitung sejak 20 Desember 2023 atau setelah berakhirnya kontrak lama. Pemegang Partisipasi Interes blok ini adalah ConocoPhillips sebesar 46%, PT Pertamina Hulu Energi Corridor sebesar 30%, dan Talisman (Corridor) Ltd dengan porsi 24%. ConocoPhillips dalam hal ini juga bertindak sebagai operator. 

“Pesan saya agar kontraktor tak hanya mempertahankan namun meningkatkan laju produksi,” kata Arifin di Gedung Kementerian ESDM, Senin (11/11).

(Baca: Kontrak Blok Corridor Diperpanjang, Negara Kantongi Rp 3,5 Triliun)

Lebih lanjut Arifin mengatakan Blok Corridor merupakan salah satu wilayah kerja migas yang bernilai strategis. Pasalnya, produksi gas bumi dari Wilayah Kerja Corridor merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.

Selain itu ia juga mendorong agar kontraktor dapat menemukan cadangan migas baru melalui kegiatan eksplorasi. "Dengan tetap mengutamakan efisiensi, efektifitas serta keselamatan operasi," kata Arifin.

Sebelumnya, ConocoPhillips juga telah merampungkan proyek Suban Compression pada awal November lalu. Vice President Commercial and Business Development ConocoPhillips Taufik Ahmad mengatakan dengan proyek migas tersebut, rata-rata produksi Blok Corridor bisa terjaga.

"Ada tambahan sedikit agar produksi tidak turun," kata Taufik saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Selasa (6/11) malam.

(Baca: ConocoPhillips Rampungkan Suban Compression, Produksi Corridor Terjaga)

Proyek dengan estimasi investasi US$ 440 juta ini diproyeksi mampu menambah produksi Blok Corridor hingga 100 juta standar kaki kubik per hari mmscfd. Hingga akhir September 2019, lifting gas Blok Corridor mencapai 833 mmscfd atau mencapai 102,8% dari target APBN sebesar 810 mmscfd.

Kontrak bagi hasil tersebut berlaku selama 20 tahun terhitung sejak 20 Desember 2023 atau setelah berakhirnya kontrak saat ini. Namun ConocoPhillips juga tak akan menghabiskan kontrak 20 tahun sebagai operator blok Corridor. Setelah 19 Desember 2026, operator blok ini akan diserahkan kepada Pertamina. Ketiga perusahaan sudah saling sepakat terkait pembagian masa operator blok tersebut. 

Namun ConocoPhillips juga tak akan menghabiskan kontrak 20 tahun sebagai operator blok Corridor. Setelah 19 Desember 2026, operator blok ini akan diserahkan kepada Pertamina. Ketiga perusahaan sudah saling sepakat terkait pembagian masa operator blok tersebut. 

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan