Investor Gelar 882 Pertemuan dengan Startup di Bali, Mayoritas Fintech

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

13/11/2019, 19.42 WIB

Padahal, investor mulai berminat pada startup agrikultura di Indonesia.

investor lokal dan asing gelar ratusan pertemuan dengan startup lokal di Bali, mayoritas fintech
Kominfo
Ilustrasi, empat CEO Unicorn saat pertemuan The 1st Next Indonesia Unicorn (NextICorn) International Summit di Bali, (9/5/2018).

Sebanyak 166 investor lokal dan asing mengagendakan 882 pertemuan dengan startup Indonesia. Acara ini bagian dari Program Next Indonesia Unicorn (NextICorn) Summit yang digelar di Jimbaran, Bali pada 14-15 November.

Ada 104 startup lokal yang berpartisipasi dalam acara itu. Mayoritas startup yang diajak bertemu yakni teknologi finansial (fintech), 36 perusahaan. “Paling banyak yang ikut dari DKI Jakarta,” kata Ketua Umum Yayasan NextICorn Daniel Tumiwa di Bali, hari ini (13/11).

Setelah fintech, perusahaan rintisan yang paling banyak dipilih yakni e-commerce (13) dan otomotif (12). Sedangkan yang lainnya yakni emerging tech (8), adtech (5), entertaintment (4), human resources (4), data research (3), edutech (3), agritech (2), marketplace (2), blank (2), dan medical tech (2).

Lalu, masing-masing satu bidang startup yang turut hadir dalam program NextICorn yakni kuliner; games and, health and life style; insure tech; internet of things (IoT); product engineering; retail and fashion; social suistanable; dan, travel and tourism.

(Baca: 104 Startup Bakal Bertemu 150 Investor Global di Ajang NextICorn 2019)

Daniel mengungkapkan, mayoritas investor berasal dari Singapura. Disusul Jakarta, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok. Beberapa di antaranya Sequoia, Vertex, Temasek, Alpha JWC Ventures, Warburg Pincus, dan EV Growth.

Sequoia merupakan investor tiga unicorn Indonesia yakni Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. Sedangkan, Alpha JWC Ventures merupakan investor dari startup besutan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming yaitu Goola.

Menurut Daniel, minimnya keterlibatan startup dari luar Jakarta karena kurangnya informasi. “Ke depan kami bakal perbaiki sosialisasi dengan menggaet berbagai komunitas,” kata dia.

(Baca: Tujuh Masalah Menghadang Gojek hingga Tokopedia Sebelum Jadi Unicorn)

Ia mengatakan, pendaftaran startup dan investor dalam ajang ini masih bakal dibuka hingga tengah malam nanti. Sepengetahuannya, para investor sudah tahu startup mana yang dituju.

"Secara visi misi (startup) investor sudah tahu. Tapi mereka ingin mengkaji lagi dan bertemu. Jadi mereka ingin memanfaatkannya (ajang ini)," kata dia.

NextICorn sudah dua kali digelar pada Mei dan Oktober 2018. Perusahaan rintisan yang ikut terus meningkat, dari 65 menjadi 88, dan kini ditarget 132. Jumlah investor juga naik dari 89 menjadi 125, dan dibidik 150 pada tahun ini.

Pada Mei 2018, ada 2020 permintaan pertemuan antara startup dengan investor. Namun yang terealisasi hanya 1.035 karena keterbatasan ruang dan waktu. Pada Oktober 2018, ada 801 pertemuan dari total 3.999 permintaan.

Tahun ini, ada 4.800 permintaan pertemuan. Namun, Daniel memperkirakan hanya akan terealisasi 1.500. “Kami fokus pada meetings,” kata dia beberapa waktu lalu (7/11). Sebab, peluang kesepakatan antara startup dan investor lebih terbuka lebar lewat pertemuan bilateral seperti ini.

(Baca: Dorong 1000 Startup, Kominfo Siapkan Berbagai Program Edukasi)

Perusahaan rintisan yang bisa ikut NextICorn pun dikurasi. Salah satu syaratnya, berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau Penanaman Modal Asing (PMA) dengan kepemilikan modal lokal minimal 25%. Setidaknya sudah memeroleh investasi US$ 100 ribu dari investor eksternal.

Bila masih bootstrap atau didanai oleh pendiri, startup media minimal punya lima juta pengguna aktif bulanan (Month Active User/MAU) untuk bisa ikut NextICorn. Bagi startup e-commerce, minimal nilai transaksinya (Gross Merchandise Value/GMV) lebih dari US$ 1 juta atau aplikasinya diunduh satu juga kali.

Sedangkan bagi perusahaan rintisan di bidang Software as a Service (SaaS), minimal Annual Recurring Revenue (ARR) sebesar US$ 500 ribu. 

Dari sisi pendanaan, sekitar 20% perusahaan rintisan sudah mendapat pendanaan kurang dari US$ 1 juta. Kemudian, 55% memperoleh pendanaan US$ 1 juta-US$ 5 juta, dan 25% di atas US$ 5 juta.

(Baca: BKPM Buka Peluang Besar Investasi bagi Startup Digital)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan