Pengusaha Tolak Kenaikan Cukai Vape Sebesar 25% Mulai Tahun Depan

Penulis: Rizky Alika

Editor: Febrina Ratna Iskana

15/11/2019, 14.17 WIB

Industri vape menyumbangkan Rp 700 miliar dari tarif cukai rokok elektrik pada Oktober-Desember 2018.

Kementerian Keuangan akan menaikkan cukai rokok elektrik (vape) sebesar 25% dari harga jualnya saat ini. Cukai ini akan berlaku mulai 1 Januari 2020.
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Kementerian Keuangan akan menaikkan cukai rokok elektrik (vape) sebesar 25% dari harga jualnya saat ini. Cukai ini akan berlaku mulai 1 Januari 2020.

Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Aryo Andrianto menolak kenaikan cukai rokok elektrik atau vape pada 2020 sebesar 25%. Menurutnya, industri vape sudah memiliki beban yang besar dengan tarif cukai saat ini sebesar 57%.

"Kami sangat menolak. Ini kan industri yang baru jalan satu tahun lebih sedikit, tapi sudah dibebankan segitu besarnya," kata dia di Jakarta, Jumat (15/11).

Menurutnya, industri vape sudah menyumbangkan cukai ke negara hingga Rp 700 miliar pada Oktober-Desember 2018. Jumlah tersebut berpotensi meningkat saat cukai vape telah berlaku selama satu tahun penuh pada 2019.

Dengan kenaikan cukai vape, ia menilai pertumbuhan industri vape akan terdampak. Oleh karena itu, ia berharap peningkatan penerimaan cukai vape dapat dilakukan dengan penerapan aturan yang sesuai.

(Baca: Kenaikan Cukai Vape Berlaku 2020, Indonesia Bukan yang Termahal)

Ketua Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia(Appnindo) Syaiful Hayat mengatakan vape dikenakan tarif cukai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) yang tertinggi. Padahal vape telah dikenakan tarif cukai sebesar 57% dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hasil tembakau 9,1%. Dengan demikian, vape telah dikenakan beban sebesar 66%.

Menurutnya, pihak asosiasi dan pemerintah belum menentukan besaran Harga Jual Eceran (HJE) cairan vape seiring dengan rencana kenaikan tersebut. Ia pun akan berdiskusi dengan pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Di sisi lain, penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) mendominasi dengan rata-rata kontribusi 96% terhadap total pendapatan cukai selama periode 2015-2018. Tren penerimaan CHT selalu meningkat setiap tahun karena adanya relaksasi pelunasan cukai hasil tembakau dan keberhasilan Penertiban Cukai Berisiko Tinggi (PCBT) melalui pemberantasan pita cukai rokok ilegal.

Pada 2018, penerimaan CHT sebesar Rp 152,9 triliun atau berkontribusi sebesar 95,8% dari total pendapatan cukai yang sebesar Rp 159,6 triliun. Angka penerimaan CHT pada 2018 meningkat 3,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 147,7 triliun. Pada 2019, diproyeksikan penerimaan CHT meningkat 3,9% menjadi Rp 158,9 triliun.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 ditargetkan penerimaan CHT sebesar Rp 171,9 triliun atau tumbuh hingga 8,2%. Target ini merupakan yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai informasi, pemerintah menetapkan kenaikan cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran sebesar 35% mulai berlaku pada 1 Januari 2020.

Data selengkapnya terkait kontribusi cukai rokok terhadap penerimaan negara bisa dilihat dalam grafik Databoks berikut ini :

 

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan