Utang Global Tembus US$ 250 Triliun, Paling Banyak AS dan Tiongkok

Penulis: Agustiyanti

16/11/2019, 11.56 WIB

Tiongkok dan AS menyumbangkan lebih dari 60% kenaikan utang global sebesar US$ 7,5 triliun pada enam bulan pertama tahun ini.

utang global, dolar as
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Ilustrasi. Utang global diperkirakan akan mencapai US$ 255 triliun pada akhir 2019.

Utang global mencatatkan rekor tertinggi mencapai US$ 250 triliun pada semester pertama tahun ini, didorong oleh kenaikan utang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Dikutip dari CNBC, laporan yang baru dirilis oleh International Institute of Finance (IIF) menunjukkan bahwa utang global melonjak US$ 7,5 triliun dalam enam bulan pertama tahun ini menjadi US$ 250,9 triliun. Pada akhir 2019, utang global diperkirakan mencapai US$ 255 triliun.

Tiongkok dan AS menyumbang lebih dari 60% kenaikan utang global. Utang negara-negara emerging market juga diperkirakan mencapai rekor baru mencapai US$ 71,4 triliun atau rata-rata 220% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Dengan tanda-tanda perlambatan dalam laju akumulasi utang, kami memperkirakan bahwa utang global akan melampaui US$ 255 triliun pada akhir tahun ini, ”kata IIF dalam laporan tersebut.

(Baca: Utang Luar Negeri RI per September Bengkak 10,2% Jadi Rp 5.538 Triliun)

Meningkatnya utang di seluruh dunia telah menjadi perhatian besar bagi investor. Suku bunga yang rendah membuatnya sangat mudah bagi korporasi dan pemerintah untuk meminjam lebih banyak uang.

“Namun, dengan semakin berkurangnya ruang lingkup pelonggaran moneter lebih lanjut di banyak bagian dunia, negara-negara dengan tingkat utang pemerintah yang tinggi dan yang pertumbuhan utangnya cepat akan sulit mengeluarkan stimulus fiskal, "kata laporan IIF.

IMF akhir bulan lalu memperingatkan risiko kenaikan tingkat utang risiko yang ditunjang oleh suku bunga rendah bank sentral. IMF Memperingatkan hampir 40% atau sekitar US$ 19 triliun utang korporasi negara-negara ekonomi utama, seperti AS, Tiongkok, Jepang, Jerman, Inggris, dan Italia memiliki risiko gagal bayar jika ekonomi global terus melambat.

(Baca: PLN Utang ke 8 Bank Asing Rp 14 Triliun untuk Proyek Listrik 35 GW)

Namun, The Federal Reserve (The Fed) sepertinya tidak terlalu khawatir dengan meningkatnya utang tersebut. Pada Kamis, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan dia tidak melihat tanda-tanda adanya gelembung atau bahaya langsung yang ditimbulkan oleh defisit triliunan dolar.

Namun, laporan dari IIF memberikan gambaran yang berbeda yang menyatakan bahwa utang pemerintah global akan mencapai US$ 70 triliun pada 2019, naik dari US$ 65,7 triliun pada 2018 ditopang oleh kenaikan utang AS.

“Peningkatan besar dalam utang global selama dekade terakhir telah didorong terutama oleh utang pemerintah dan sektor korporasi nonfinansial," terang IIF.

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan