Kementerian ESDM Berencana Tawarkan Proyek Kilang Baru ke Saudi Aramco

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

19/11/2019, 18.02 WIB

Kementerian ESDM berencana menawarkan proyek kilang baru ke Saudi Aramco jika tak mencapai kesepakatan dengan Pertamina di proyek RDMP Cilacap,

Kementerian ESDM, kilang, Saudi Aramco
Katadata
Ilustrasi, kilang Cilacap. Kementerian ESDM akan menawarkan proyek kilang baru kepada Saudi Aramco jika tak mencapai kesepakatan dengan Pertamina di proyek RDMP Cilacap.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menawarkan proyek kilang minyak baru kepada Saudi Aramco. Pasalnya, Aramco dan dan Pertamina tak kunjung mencapai kesepakatan terkait valuasi dan spin off aset di proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas Djoko Siswanto menjelaskan pemerintah tidak hanya menawarkan Aramco untuk berinvestasi membangun fasilitas kilang baru, tapi juga memberi opsi kepada Aramco untuk memilih lokasi untuk proyek baru tersebut. Selain itu, Aramco juga dibebaskan untuk mencari mitra di proyek kilang baru. 

"Ya itu kalau enggak deal mereka bisa bangun baru atau pilih dimana. Mereka bisa sendiri atau Pertamina bisa join disana," ujar Djoko di Kemenko Maritim, Selasa (19/11).

Meski begitu, Djoko mengatakan opsi penawaran proyek kilang baru berlaku jika tidak ada kesepakatan antara Aramco dengan Pertamina di proyek kilang Cilacap. Hingga kini, pemerintah masih menunggu hasil kesepakatan antara kedua perusahaan tersebut.  

Menteri ESDM Arifin Tasrif berharap kedua perusahaan bisa sepakat terkait valuasi dan spin off  aset kilang Cilacap dalam waktu dekat. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah mulai titik cerah. Tunggu saja beberapa waktu ke depan," kata Arifin. 

(Baca: Valuasi Kilang Cilacap Alot, Luhut Sebut Pertamina Bisa Garap Sendiri)

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Pertamina dapat menggarap proyek kilang Cilacap secara mandiri tanpa Saudi Aramco. Ini lantaran negosiasi antara Pertamina dan Aramco berlangsung alot.

“Bisa saja jalan sendiri kalau tidak ketemu angka (valuasinya),” kata Luhut di kantornya, Jumat (15/11) malam.

Luhut mengatakan pemerintah masih menunggu hasil audit terkait valuasi aset kilang tersebut yang seharusnya rampung bulan ini. Hingga kini, masih terdapat selisih perhitungan aset sebesar US$ 1,5 miliar antara kedua belah pihak.

Jika tidak ada titik temu, Luhut akan menawarkan investasi lain terhadap Saudi Aramco. Salah satu proyek yang akan ditawarkan adalah kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban.

Investasi proyek RDMP Cilacap ditaksir mencapai US$ 5 miliar. Dengan investasi tersebut, kapasitas kilang Cilacap diharapkan meningkat dari 348 ribu barel per hari menjadi 400 ribu barel per hari. Adapun spesifikasi produk, mencakup Euro V, petrokimia dasar (basic petrochemical), dan Group II Base Oil untuk pelumas.

Pertamina dan Aramco sebenarnya telah membentuk perusahaan patungan sejak 22 Desember 2016 untuk proyek tersebut. Pertamina memegang saham sebesar 55% dan Saudi Aramco sebesar 45%. Kala itu, Pertamina dan Aramco menargetkan proyek RDMP Cilacap bisa dimulai pada 2021.

Namun, proyek kilang Cilacap terhalang kesepakatan terkait valuasi dan spin off aset hingga saat ini. Di sisi lain, Aramco justru begitu gencar berinvestasi kilang di negara lain, seperti Tiongkok dan Malaysia.

(Baca: Menteri ESDM ke Kilang Balikpapan, Lihat Progres Proyek di Atas Target)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan