Staf Khusus Milenial Jokowi Dinilai Tak Punya Peran Penting di Istana

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Safrezi Fitra

23/11/2019, 16.18 WIB

Indonesia Political Opinion ( IPO) menilai jumlah staf khusus yang masuk, kapasitasnya tidak akan mempengaruhi kebijakan dari seorang Presiden.

jokowi, staf khusus jokowi, staf khusus milenial,
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Staf khusus Presiden Joko Widodo yang baru dari kalangan milenial (kiri ke kanan) CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Ma'ruf, Peraih beasiswa kuliah di Oxford Billy Gracia Yosaphat Mambrasar dan Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Presiden Joko Widodo telah resmi mengumumkan tujuh nama staf khusus baru yang akan mendampinginya di pemerintahan periode kedua 2019-2024. Staf khusus tersebut merupakan anak-anak muda atau milenial dengan rentang usia yang masih muda.

Jokowi berharap dengan adanya staf khusus baru dari kalangan milenial dapat mengembangkan berbagai inovasi. Selain itu, peran dari staff khusus juga diharapkan dapat menjadi teman diskusi Jokowi agar membuat gagasan baru untuk periode kedua ini.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah Putra mengatakan pemilihan staf khusus milenial merupakan wewenang dan hak dari seorang Presiden. Meski begitu, menurutnya jumlah staf khusus yang masuk kapasitasnya tidak akan mempengaruhi kebijakan dari seorang Presiden.

(Baca: 7 Staf Milenial di Ring 1 Jokowi)

Pasalnya, keberadaan dari staf khusus tersebut selebihnya hanya memberi masukan kepada Presiden. Hal itu juga masih menunggu perlu atau tidaknya Presiden untuk bertemu para staf khususnya untuk berdiskusi. "Maka itu, menurut saya tidak terlalu krusial," kata dia saat ditemui di diskusi di Jakarta, Sabtu (23/11).

Menurutnya, para staf khusus tersebut justru lebih banyak merupakan seseorang yang mempunyai relevansi atas kemenangan Jokowi dalam pilpres kali ini. Hanya saja, pihaknya melihat bahwa tingkat kepentingan Jokowi mengangkat nama tersebut hanya ingin mengakomodir tokoh-tokoh milenial serta lintas generasi.

"Kalau dilihat dari skema yang ada,mereka tidak punya kewengan eksekusi artinya staf khsusus diperlukan hanya untuk rekan diskusi," kata dia.

(Baca: Putri Tanjung Jadi Staf Jokowi, CT Merapat Pemerintah ?)

Presiden, kata Dedi, sebenarnya juga sudah mempunyai pembantu dari berbagai lintas sektor. Misalnya seperti Kementerian dan KSP, maka dari itu yang diperlukan presiden menurutnya bukanlah sebuah tatanan teknis. Staf khusus dibutuhkan untuk membantu menteri.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan