Luhut: Teknologi EOR dapat Sedot Minyak hingga 1,6 Miliar Barel

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Yuliawati

2/12/2019, 22.37 WIB

Selain ESDM, Luhut mengundang beberapa produsen migas terbesar yang ikut dalam rapat tersebut.

Luhut, teknologi EOR, migas
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mendorong penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk menggenjot produksi migas. Luhut menyebut terdapat potensi 1,6 miliar barel minyak yang dapat dioptimalkan dengan menggunakan EOR.

"Kita punya data 1,6 miliar barel yang bisa EOR," kata Luhut‎, di Gedung Kemenko Maritim, Senin (2/11).

Luhut menggelar rapat koordinasi bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengidentifikasi beberapa lapangan migas atau sumur yang dapat diterapkan metode EOR.

Selain ESDM, Luhut mengundang beberapa produsen migas terbesar yang ikut dalam rapat tersebut di antaranya yakni Pertamina, ExxonMobil, ConocoPhillips, Inpex Corporation, Chevron Pacific Indonesia, Total E&P Indonesia dan BP.

(Baca: SKK Migas Ingin Pertamina EP Terapkan EOR Full Scale di Lapang Tanjung)

Luhut meminta semua pihak memberikan perhatian pada kondisi penurunan produksi migas alamiah (decline rate) yang tak bisa dihindari. "Tadi migas kita minta mereka mengidentifikasi bagaimana menaikan lifting kita, Sekarang ini kan 800 bopd turun ke 700 bopd cenderung akan turun." kata Luhut.

Maka dari itu, Luhut meminta khsususnya di Kementerian ESDM untuk segera membuat perencanaan guna mengimplementasikan metode EOR tersebut dapat dilaksanakan dengan optimal. "Bagaimana menggunakan EOR untuk meningkatkan produksi bisa 1 juta barel lagi untuk berapa tahun ke depan," ujar Luhut.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas Dirjen Migas Djoko Siswanto mengatakan teknologi EOR dapat diterapkan mulai dari sumur, tidak langsung dalam skala penuh di satu lapangan. Djoko menyebut Luhut meminta ESDM mengidentifikasi sumur mana saja yang dapat menggunakan teknologi EOR. Laporan soal itu ditunggu pada 25 Januari 2020.

(Baca: Menteri ESDM Sebut Dua Strategi Tingkatkan Produksi Migas Pertamina)

Lebih lanjut, Djoko menyebut setiap sumur nantinya berpotensi akan menghasilkan produksi minyak hingga mencapai 200 barel. Sehingga, nantinya jika program EOR dapat diterapkan maka masih ada potensi cadangan 1,5 hingga 1,7 miliar barel minyak yang siap diangkut.

"Masih bisa diangkut 1,5 sampai 1,7 miliar barel minyak dari EOR. Secara bertahap mau dari 100 barel 200 barel itu dari sumuran," katanya.

Adapun menurut Djoko, beberapa blok migas yang sumur migas nya berpo‎tensi diterapkan teknologi EOR, di antaranya yakni di Blok Rokan, Lapangan Zulu Blok Offshore North West Java (ONWJ) dan sumur Blok Rimau. "Yang gede kan ada di Rokan sama Pertamina EP sama di Zulu PHE sama di Medco ya Rimau," kata Djoko.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan