Impor Konsumsi Melonjak, Neraca Dagang November Defisit US$ 1,3 Miliar

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

16/12/2019, 11.41 WIB

BPS mencatat neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari-November 2019 defisit mencapai US$ 3,11 miliar.

Suasana kegiatan ekspor impor di kawasan Tanjung Priok,  Jakarta Utara (28/6). Tiongkok tetap merupakan negara tujuan ekspor utama dan terbesar Indonesia dengan nilai US$ 9,55 miliar atau 15,13% dari total ekspor. Jumlah ini diikuti AS dengan nilai US$ 7,
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi. BPS mencatat ekspor pada November 2019 US$ 14,01 miliar, turun 6,17% dibanding bulan sebelumnya. Sementara neraca perdagangan defisit US$ 1,33 miliar.

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat defisit neraca perdagangan pada November 2019 mencapai US$ 1,33 miliar. Adapun sepanjang Januari-November 2019, defisit neraca perdagangan mencapai US$ 3,11 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, total ekspor pada November 2019 mencapai US$ 14,01 miliar, turun 6,17% dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan impor mencapai US$ 15,34 miliar, naik 3,94% dibanding bulan sebelumnya.

"Jadi dengan kinerja impor dibandingkan dengan ekspor, defisit perdagangan kita pada November cukup dalam mencapai US$ 1,33 miliar," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/12).

Suhariyanto merinci, ekspor migas pada November 2019 naik 20,66% menjadi 11,1 miliar, sedangkan ekspor nonmigas turun 7,92% menjadi US$ 12,9 miliar.

(Baca: Bulog Buang Beras 20 Ribu Ton, Buah dari Kebijakan Salah Hitung Impor?)

Kenaikan ekspor migas seiring harga minyak mentah yang naik 12,68% dan gas sebesar 28,6%. "Ekspor nonmigas terjadi karena penurunan beberapa komoditas seperti biji dan logam, besi dan baja, serta bahan bakar mineral," jelas dia.

Sedangkan jika dibanding November 2018, total ekspor tercatat turun sebesar 5,67%, dengan ekspor migas turun 15,81%. Adapun ekspor industri pengolahan turun 1,66%, pertambangan turun 19,9%, sedangkan pertanian naik 4%.

Sementara itu, impor pada November meningkat terutama pada jenis barang konsumsi yang mencapai 16,13% dibanding bulan sebelumnya. Sedangkan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, impor konsumsi naik 16,28%.

"Impor bahan baku juga meningkat 2,63% secara bulanan, tetapi turun 13,23% secara tahunan. Barang modal naik 2,58%, tetapi turun 3,55% secara tahunan," terang dia.

(Baca: Harga Bahan Makanan dan Rokok Naik, Inflasi November 0,14%)

BPS juga mencatat total ekspor Januari-November 2019 mencapai US$ 153,11 miliar, turun 7,61% dibanding periode yang sama tahun lalu US$ 165,72 miliar. Sementara total impor mencapai US$ 156,22 miliar, turun 9,88%.

"Secara kumulatif neraca perdagangan defisit US$ 3,11 miliar," jelas Suhariyanto.

Sepanjang tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit mencapai US$ 8,7 miliar, terdalam sepanjang sejarah seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan