Supreme Energy Mulai Operasikan Pembangkit Panas Bumi Muara Laboh

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

16/12/2019, 08.26 WIB

Pembangkit listrik panas bumi Muara Laboh mampu memasok listrik untuk 340 ribu rumah tangga.

pembangkit listrik panas bumi muara laboh, supreme energy
ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Ilustrasi, area sumur panas bumi. Supreme Energy resmi mengoperasikan pembangkit listrik Muara Laboh berkapasitas 85 Megawatt (MW).

PT Supreme Energy Muara Laboh resmi mengoperasikan secara komersil (commercial on date/COD) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tahap-1 Muara Laboh yang berlokasi di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Senin (16/12). Pembangkit listrik tersebut memiliki kapasitas sebesar 85 megawatt (MW).

Adapun listrik yang dihasilkan akan dialirkan ke jaringan listrik Sumatera milik PT PLN (Persero) yang dapat didistribusikan ke kurang lebih 340.000 rumah tangga.

Founder & Chairman PT Supreme Energy Supramu menyampaikan beroperasi-nya PLTP Muara Laboh Tahap-1 dan rencana pengembangan Tahap-2 merupakan komitmen  dari perusahaan dan mitra terhadap pengembangan panas bumi di Indonesia. Hal tersebut juga menjadi dukungan perusahaan terhadap Pemerintah Indonesia dalam mencapai sasaran bauran energi pada 2025.

"Kami sangat menghargai dukungan yang kuat dan terus menerus dari pemerintah, PLN, dan masyarakat Solok Selatan khususnya, selama kegiatan eksplorasi dan pengembangan," ujar Supramu berdasarkan keterangan tertulis, Senin (16/12).

(Baca: Hingga September, Kapasitas Panas Bumi Capai 2003,3 MW)

Supreme Energy memulai studi pendahuluan dalam proyek pengembangan PLTP Muara Laboh pada 2008. Kemudian, Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA) ditandatangani pada 2012, dan dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi. Total investasi untuk pengembangan tahap-1 ini mencapai US$ 580 juta.

Di sisi lain, Supreme Energy juga dalam tahap pembicaraan dengan PLN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk pengembangan Muara Laboh Tahap-2 berkapasitas 65 MW. Pengembangan itu membutuhkan investasi US$ 400 juta dan akan segera dimulai setelah negoisasi PPA selesai.

Selain Muara Laboh, Supreme Energy membangun Proyek PLTP Rantau Dedap berkapasitas 90 MW di Sumatera Selatan. Proyek tersebut dijadwalkan selesai pada akhir tahun depan dengan nilai investasi sekitar US$ 700 juta.

Perusahaan juga mempersiapkan program eksplorasi untuk Wilayah Kerja Panas bumi Gunung Rajabasa yang berlokasi di Wilayah Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Kegiatan eksplorasi akan dimulai segera setelah negoisasi perpanjangan PPA dengan PLN selesai.

(Baca: Harga Kurang Menarik, Tiga Wilayah Kerja Panas Bumi Tak Laku Dilelang)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan