Inflasi Melebihi Upah, Daya Beli Buruh Tani Turun

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Desy Setyowati

15/1/2020, 17.40 WIB

Kenaikan harga di perdesaan melebihi upah nominal buruh tani. Alhasil, daya beli petani menurun.

Inflasi Melebihi Upah nominal, Daya Beli Buruh Tani Turun
ANTARA FOTO/Basri Marzuki
Ilustrasi, petani memanen cabai di Desa Porame, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (14/1/2020).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, daya beli buruh tani Indonesia menurun pada Desember 2019. Penyebabnya, inflasi di perdesaan lebih tinggi dibanding upah nominal petani.

Upah nominal merupakan rerata gaji harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang sudah dilakukan. Upah nominal buruh tani memang naik 0,13% secara bulanan (month to month/mtm).

Namun, inflasi di perdesaan mencapai 0,28%. “Upah riilnya pun turun,” kata kata Kepala BPS Suhariyanto saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (15/1). Upah riil ini mencerminkan daya beli buruh tani.

Upah riil buruh tani turun 0,14% mtm dari Rp 38.260 menjadi Rp 38.205 per hari. Sedangkan, rata-rata upah nominal buruh tani naik dari Rp 54.650 menjadi Rp 54.723 per hari.

(Baca: Permintaan Bahan Makanan Tinggi Saat Natal, Inflasi Desember Naik)

Upah riil buruh bangunan atau tukang bukan mandor juga turun 0,23%, dari Rp 64.272 menjadi Rp 64.125 per hari. Meskipun, rerata upah nominalnya naik 0,11% dari Rp 89.081 menjadi Rp 89.179 per hari pada Desember 2019.

Begitu juga dengan upah riil pembantu rumah tangga, yang turun 0,22% dari Rp 302.161 menjadi Rp 301.501 per bulan. Rerata upah nominalnya naik 0,12% dari Rp 418.795 menjadi Rp 419.298 per hari.

Sedangkan upah riil buruh potong rambut wanita turun 0,34% dari Rp 20.501 menjadi Rp 20.432. Rata-rata upah nominalnya tetap Rp 28.415,00 per kepala.

Inflasi Desember 2019 mencapai 0,34% mtm. Penyebabnya, permintaan bahan makanan tinggi saat Natal dan Tahun Baru. “Inflasinya (bahan makanan) 0,78% dan andilnya 0,16%," kata Suhariyanto, beberapa waktu lalu (2/1).

(Baca: Inflasi Pedesaan Melonjak pada November, Daya Beli Buruh Tani Turun)

Ada beberapa komoditas yang berkontribusi besar terhadap inflasi kelompok bahan makanan. Di antaranya telur ayam ras dengan andil 0,08%, bawang merah 0,07%, ikan segar 0,02%, serta beras, bayam, kacang panjang, tomat sayur, jeruk, tomat buah, dan minyak goreng masing-masing 0,01%.

Meski begitu, ada sejumlah bahan makanan yang harganya turun. Cabai merah misalnya, memberi andil 0,06% terhadap deflasi. Lalu, cabai rawit 0,03% dan daging ayam ras 0,01%.

Selain itu, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi yang tinggi pada Desember 2019. Kenaikan harga pada kelompok ini sebesar 0,58%.

Tarif angkutan udara berkontribusi 0,07% terhadap inflasi. Lalu, tarif kereta api memberi andil 0,02% dan angkutan antarkota 0,01%.

(Baca: Harga Beras Naik Usai Banjir, Inflasi Pekan Kedua Januari Capai 0,41%)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan