RI Beli Kapal Besar Dari Denmark untuk Perkuat Armada di Natuna

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Ameidyo Daud

18/1/2020, 05.45 WIB

Kapal ocean going berukuran 138-150 meter akan digunakan untuk patroli Bakamla

KRI Teuku Umar-385 melakukan peran muka belakang usai mengikuti upacara Operasi Siaga Tempur Laut Natuna 2020 di Pelabuhan Pangkalan TNI AL Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (3/1/2020). Operasi siaga tempur itu dilaksanakan oleh Komando Armada (Koarmad
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Ilustrasi kapal perang KRI Teuku Umar-385 milik TNI AL. Pemerintah berencana membeli kapal besar penjelajah samudera (ocean going) dari Denmark guna memperkuat armada di perairan natuna.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah berencana menambah armada laut untuk menjaga perairan Natuna. Salah satunya dengan membeli kapal penjelajah samudera (ocean going) dari Denmark.

Luhut mengatakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto telah menyampaikan rencana pembelian kapal dengan panjang 138 hingga 150 meter tersebut. Nantinya, kapal itu dapat digunakan Badan Keamanan Laut (Bakamla) untuk mengawasi perairan Natuna.

Meski demikian, Luhut tidak memberitahu berapa kapal yang akan dibeli pemerintah. “Jadi dia akan bisa berlayar sampai di laut kita yang lebih luas," kata dia di Jakarta, Jumat (17/1).

(Baca: Jaga Laut Natuna, DPR Minta Prabowo Tambah Kapal Patroli Laut)

Luhut menjelaskan pembelian akan dilakukan setelah aturan omnibus law mengenai Bakamla dirampungkan. Langkah ini juga merupakan penguatan terhadap keamanan negara lantaran selama ini Indonesia tidak memiliki kapal yang berukuran besar. "Kita selama 72 tahun merdeka belum punya ocean going," kata dia.

Selain itu Luhut juga menyampaikan dari sisi pengembangan sektor maritim, banyak pihak berminat untuk mengembangkan pangkalan nelayan dan industri perikanan di Natuna. Meski demikian, pihaknya masih menunggu hasil studi yang tengah dikerjakan. "Kemarin katanya Amerika Serikat (AS), Jepang dan Korea tertarik berinvestasi di Natuna," kata dia.

(Baca: Jawaban Menteri Edhy Soal Nelayan Pantura Ditolak di Natuna)

Presiden Joko Widodo sebelumnya mengajak Jepang untuk berinvestasi di Natuna, Kepualauan Riau. Tawaran serupa juga disampaikan pemerintah Indonesia kepada Amerika Serikat melalui International Development Finance Corporation (IDFC). 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, Jepang sebenarnya sudah cukup lama berkomitmen untuk berinvestasi di pulau terluar Indonesia tersebut. Dengan komitmen tersebut, Retno meyakini akan ada penguatan industri perikanan Indonesia di Natuna.  "Komitmen sudah cukup lama. Respons Jepang sangat positif," ujarnya.

 

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan