Sejarah Berliku Netflix yang Kini Diusik Hoax Fatwa Haram MUI

Penulis: Pingit Aria

24/1/2020, 19.23 WIB

Netflix adalah pionir dalam bisnis streaming konten video.

Ilustrasi Netflix
123RF.com/Charnsit Ramyarupa

Beberapa hari terakhir, beredar isu bahwa Majelis Ulama Indonesia ( MUI) akan mengeluarkan fatwa haram untuk Netflix atas keberadaan konten negatif di platform video on demand itu. Meski MUI segera membantahnya, namun topik itu telah menjadi topik perbincangan di internet.

Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanudin AF mengatakan, MUI belum pernah membahas tentang konten Netflix. "Pemberitaan yang menyebutkan 'MUI menetapkan fatwa haram Netflix' atau 'MUI siap menetapkan fatwa haram Netflix' adalah tidak benar," katanya dalam siaran pers, Jumat (24/1).

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penetapan fatwa dilakukan melalui kajian mendalam. MUI juga akan berkoordinasi dengan ahli di bidang terkait dengan disiplin ilmu tertentu.

Bagaimanapun, Hasanudin tetap menegaskan bahwa penyedia jasa digital dilarang menjual, mengedarkan, dan atau memuat konten terlarang, baik secara hukum maupun agama. Namun, jika ada pelanggaran, aparat terkait harus bertanggung jawab dan melakukan penegakan hukum.

(Baca: Netflix Siap Tayangkan 21 Film Studio Ghibli Mulai Februari 2020)

Persoalan konten negatif di Netflix menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Alasan itu pula yang dijadikan Telkom Group untuk memblokir akses paltform hiburan digital asal Amerika Serikat tersebut. 

Selain soal konten negatif, Netflix juga menghadapi isu pajak. Sejak beroperasi di Indonesia tahun 2016, Netflix belum membayar pajak karena belum ada regulasi yang mengatur perpajakan atas transaksi perusahaan over the top (OTT), termasuk Netflix dan Spotify.

Jika Spotify dikenal sebagai penyedia layanan streaming musik, Netflix adalah pionir dalam bisnis streaming konten video.

Sosok kunci di balik Netflix adalah Reed Hastings yang juga menjabat sebagai CEO. Lahir di Boston, Massachusetts, 59 tahun lalu, kekayaannya ditaksir mencapai US$ 9 miliar berkat Netflix.

Punya ayah pengacara, Hastings tumbuh di keluarga mapan. Ia menyukai matematika dan mempelajarinya di Bowdoin College di Maine. Lulus kuliah, Hastings sempat masuk tentara tapi hanya bertahan dua tahun. Tahun 1983, dia berpetualang di negara Swaziland, Afrika, bekerja sebagai relawan pengajar matematika.

Dua tahun di Swaziland, Hastings kembali ke Amerika Serikat dan melanjutkan kuliah S2 Jurusan Ilmu Komputer di Stanford University. Ia lulus tahun 1988, lalu bekerja di Adaptive Technology sebelum memutuskan mendirikan perusahaan sendiri bernama Pure Software.

Setelah perusahaan itu diakuisisi Rational Software pada tahun 1997, Hastings memutuskan untuk mendirikan perusahaan lain. Bersama Marc Randolph temannya, ia mendirikan Netflix pada 1998.

Pada awalnya, Netflix menyewakan DVD yang dapat dikirim ke pelanggan. Tapi sejak awal, Hastings sudah punya visi kuat akan bisnis streaming.

(Baca: Video: Kisruh Netflix di Indonesia)

"Film lewat internet akan tiba dan pada suatu waktu bakal menjadi bisnis besar. Kami ingin sudah mempersiapkan diri ketika video on demand terjadi. Itulah kenapa perusahaan ini dinamai Netflix, bukan DVD by Mail," katanya dalam wawancara dengan Majalah Fortune, 2009 lalu.

Pada tahun 2007, Netflix mulai menawarkan konten secara streaming. Tanpa pesaing, Netflix pun jadi raksasa media streaming online. Pada April 2019, jumlah pelanggan berbayar Netflix sudah tembus 148 juta di seluruh dunia. Netflix sudah tersedia di seluruh dunia kecuali Tiongkok, Suriah, Korea Utara dan Crimea.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan