Daftar Provinsi yang Paling Banyak Menerima Investasi Asing pada 2019

Penulis: Pingit Aria

31/1/2020, 19.54 WIB

Papua masuk 10 besar daftar provinsi yang paling banyak menerima investasi asing tahun lalu.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi yang masuk ke Indonesia pada 2019 mencapai Rp 809,6 triliun. Angka itu meningkat Rp 88,3 triliun atau 12,24% dari Rp 721,3 triliun pada 2018. 

Sebagai catatan, dalam menghitung realisasi investasi itu, BKPM menggunakan kurs  Rp 15 ribu per dolar AS atau sesuai asumsi APBN 2019. Sedangkan, rata-rata kurs rupiah tahun lalu sebesar Rp 14.146 per dolar AS.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi investasi sepanjang tahun lalu mampu melebih target. "Realisasi ini mencapai 102,2% dari target 2019 sebesar Rp 792 triliun," kata Bahlil, Rabu (29/1).

Target tersebut ditetapkan dalam Surat Kepala BKPM No. 371/A.1/2018 mengenai Revisi Target Investasi 2018-2019 kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. 

Bahlil merinci, realisasi investasi itu terbagi atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 423,1 triliun atau 87,5% dari target Rp 483,7 triliun. Realisasi ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 392,7 triliun.

(Baca: Omnibus Law Perpajakan Akan Dibahas di DPR, Ini 6 Poin Utamanya)

Sedangkan, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp386,5 triliun atau 125,4% dari target Rp308,3 triliun. Realisasi ini juga meningkat dari tahun lalu sebesar Rp 328,6 triliun.

Berdasarkan penempatan, aliran investasi tertanam di Jawa Barat Rp137,5 triliun atau 17% dari total investasi. Lalu, DKI Jakarta Rp123,9 triliun atau 15,3%, Jawa Tengah Rp 59,5 triliun atau 7,3%, Jawa Timur Rp 58,5 triliun atau 7,2%, Banten Rp 48,7 triliun atau 6%. Sisanya, mengalir ke daerah lain sebanyak Rp381,5 triliun atau 47,2%.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, provinsi yang dipimpinnya belajar dari Jawa Barat guna memacu investasi. Ganjar mengatakan, saat ini infrastruktur Jateng telah membaik kondisinya setelah pembangunan proyek tol. Selain itu upah buruh di Jateng relatif lebih rendah dibanding Jabar dan Jawa Timur.

Lebih jauh, untuk menarik investasi asing, Jawa Tengah siap bersaing dengan negara ASEAN lain. “Sekarang kita harus bersaing dengan Vietnam,” ujarnya dalam acara Indonesia Data and Economic Conference (IDE Katadata 2020) yang diselenggarakan oleh Katadata.co.id di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (30/1).

(Baca: Investasi Rp 189 Triliun Mangkrak, BKPM Ungkap Penyebabnya)

Sebagai catatan, sepanjang tahun lalu, modal asing yang masuk Jawa Tengah mencapai US$ 2,72 miliar, dalam 1.249 proyek. Selain Jawa Tengah, berikut adalah daftar provinsi yang paling banyak menerima investasi asing.

1. Jawa Barat US$ 5,88 miliar dalam 5.526 proyek

2. DKI Jakarta US$ 4,12 miliar dalam 8.092 proyek

3. Jawa Tengah US$ 2,72 miliar dalam 1.249 proyek

4. Banten US$ 1,86 miliar dalam 2.559 proyek

5. Sulawesi Tengah US$ 1,80 miliar dalam 209 proyek

6. Kepulauan Riau US$ 1,36 miliar dalam 1.279 proyek

7. Riau US$ 1,03 miliar dalam 416 proyek

8. Maluku Utara US$ 1.01 miliar dalam 128 proyek

9. Sulawesi Tenggara US$ 987,7 juta dalam 103 proyek

10. Papua US$ 941 juta dalam 127 proyek

(Baca: Luhut Perkirakan Tambahan Penyerapan 3 Juta Pekerja Berkat Omnibus Law)

Ganjar juga mengatakan hingga saat ini tekstil dan produk olahannya masih menjadi primadona di Jawa Tengah. Salah satu industri tekstil besar yang ada di provinsi ini adalah PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang memasok seragam militer pakta pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Berdasarkan negara asal, investasi tertinggi berasal dari Singapura mencapai US$ 6,5 miliar atau 23,1% dari total invetasi. Disusul dari Tiongkok US$ 4,7 miliar atau 16,8%, Jepang US$ 4,3 miliar atau 15,3%, Hong Kong US$ 2,9 miliar atau 10,2%, dan Belanda US$ 2,6 miliar atau 9,2%. Sisanya, datang dari negara-negara lain dengan akumulasi US$ 7,2 miliar atau 25,4%.

Reporter: Rizky Alika dan Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan