Dinilai Tak Transparan, Kemendag Diminta Evaluasi Kebijakan Impor Gula

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ekarina

13/2/2020, 05.20 WIB

Proses penetapan kuota dan pemberian izin harus dilakukan secara jelas dan transparan.

MENDAG SIDAK PASAR WONOKROMO SURABAYA
ANTARA FOTO/ZABUR KARURU
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (tengah) melayani warga yang mengantri membeli gula saat digelar pasar gula pasir murah RMI dalam operasi pasar di Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (31/1). Pemerintah diusulkan segera mengevaluasi impor gula karena dinilai tak efektif dan transparan.

Pemerintah diminta mengevaluasi mekanisme impor gula mulai dari masalah kuota hingga perizinan. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, pengurusan izin impor gula sering tidak transparan dan memiliki banyak hambatan.

Menurutnya, salah satu hambatan yang perlu diperbaiki ialah pembatasan pemberian izin impor. Hal ini dinilai bisa berdampak terhadap persaingan tidak sehat antar importir.

"Tidak ada kompetisi yang sehat dapat menyebabkan impor gula  menjadi tidak efektif dan membuka celah penyalahgunaan wewenang impor," kata dia dalam keterangan resmi, Rabu (12/2).

(Baca: Asosiasi Gula: Jika Tak Impor, Harga Gula Bakal Merangkak Naik)

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 117 Tahun 2015, impor gula hanya bisa dilakukan oleh importir yang mendapatkan izin untuk raw/refined sugar atau oleh BUMN untuk impor gula putih. Padahal, proses pemberian izin impor juga tidak dilakukan secara transparan.

Oleh karena itu, aturan tersebut perlu direvisi agar memberi kesempatan kepada para importir yang memenuhi persyaratan. Felippa juga berharap, proses penetapan kuota dan pemberian izin juga sebelumnya harus dilakukan secara jelas dan transparan.

Ia menilai, proses impor idealnya dilakukan melalui automatic import licensing system sehingga importir resmi bisa mengimpor sesuai dengan kebutuhan pasar.

Sementara, penetapan kuota impor gula berdasarkan rekomendasi Kementerian Perindustrian, di satu sisi memang dinilai sudah ideal lantaran impor bisa dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan industri. Namun, penetapan kuota juga harus mempertimbangkan data yang akurat.

"Ini untuk mencegah penetapan kuota yang lebih kecil atau lebih besar dibanding permintaan," ujar dia.

(Baca: Gula Mentah Impor 1,4 Juta Ton dari Dua Negara Masuk RI Pekan Depan)

Selagi menata proses impor gula, ia berharap Kementerian Pertanian terus mendorong produksi gula dalam negeri. Dengan demikian, petani gula dalam negeri bisa berkompetisi dengan gula impor serta tidak mengalami kerugian.

"Kalau proses ini mampu menjadikan gula Indonesia kompetitif, jumlah impor gula juga akan berkurang dengan sendirinya," katanya.

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan