Harga Minyak Cetak Rekor Baru, Naik 24% Menjadi US$ 25 per Barel

Penulis: Ratna Iskana

20/3/2020, 08.50 WIB

Harga minyak dunia naik terdorong stimulus ekonomi bank sentral setelah turun dalam tiga hari berturut-turun hingga mencapai level terendah dalam 18 tahun.

harga minyak
Katadata
Harga minyak pada Kamis (20/3) sempat naik hingga 24% mencapai US$ 25 per barel.

Harga minyak dunia akhirnya berhasil melambung hampir mencapai 24% pada perdagangan Kamis (19/3), menciptakan rekor kenaikkan tertinggi dalam satu hari. Reuters mencatat harga minyak WTI naik atau 24% dari US$ 20,37 per barel menjadi US$ 25,22 per barel dan Brent naik US$ 3,59 atau 14,4% menjadi US$ 28,47 per barel. 

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (20/3) pukul 07.56 WIB, harga minyak Brent turun tipis 0,42% menjadi US$ 28,35 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pukul 06.45 naik 2,22% berada di level US$ 25,78.

Harga minyak terdorong dampak dari besarnya stimulis yang digelontorkan bank sentral. Pembuat kebijakan di AS mengeluarkan paket stimulus ekonomi untuk mengatasi dampak pandemi virus corona. Bank sentral Eropa mengeluarkan kebijakan skema pinjaman hingga 750 miliar euro atau sekitar US$ 820 miliar.

Namun, harga minyak diproyeksi tetap rendah karena permintaan yang turun. Tanda ekspektasi penurunan permintaan terlihat dari Colonial Pipeline Co, yang mengoperasikan sistem pengolahan produksi terbesar di Amerika Serikat (AS), menyatakan pemangkasan volume 20%.

"Setelah anjlok pada hari kemarin, orang-orang kembali masuk ke pasar, karena mereka melihat beberapa rencana pemangkasan produksi ke depan. Tetapi itu tidak cukup mengimbangi penurunan permintaan yang dilihat pasar pada April dan Mei 2020," kata President of Lipow Oil Associates Andrew Lipow.

Turunnya permintaan, terutama dari sektor transportasi, membuat pertumbuhan pesar di produk olahan seperti avtur dan gasoline. "Mulai 1 April 2020, sekitar empat juta barel per hari akan membanjiri pasar, berpotensi menurunkan hagra minyak hingga sekitar US$ 10 per barel," kata analis Jefferies dalam catatannya kepada Reuters.

(Baca: Harga Minyak Terus Turun Menyentuh US$ 23, Terendah sejak Tahun 2002)

Di sisi lain, pembicaraan antara Rusia dan Arab Saudi gagal. Hal itu membuat Arab Saudi berencana meningkatkan pasokan hinga 12,3 juta barel per hari dan memangkas harga minyak yang dijualnya.

AS pun meminta kedua negara berhenti perang harga. Sebab, perusahaan serpihan migas dan jasa pengeboran dalam resiko bangkrut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan harga minyak yang rendah baik buat konsumen di negara tersebut, tetapi berdampak buruk bagi industri. "Dalam waktu yang tepat saya akan ikut andil," kata Trump.

Analis melihat peningkatan harga minyak hanya sementara, mengantisipasi pelemahan berikutnya karena permintaan global turun akibat pandemi virus corona. Pasalnya, minyak jenis WTI dan Brent telah turun setengah harga dalam dua pekan.

Terutama sejak 6 Maret 2020 ketika pembicaraan antara Organisasi Negara Pengeskpor Minyak (OPEC) dan sekutunya Rusia tidak menyepakati pemangkasan produksi.Ditambah dengan pandemi virus corona yang menekan pasar seiring penutupan aktivitas bisnis dan sekolah yang mempengaruhi ekonomi global. 

(Baca: Harga Minyak Terendah Sejak 2016, Capai Level US$ 27 per Barel)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan