Masuki Masa Tersuram, Analis Prediksi Harga Minyak di Bawah US$ 20

Penulis: Desy Setyowati

24/3/2020, 08.20 WIB

Harga minyak hari ini naik. Namun, analis memperkirakan harganya di bawah US$ 20 per barel karena permintaan terus menurun akibat pandemi corona.

Harga Minyak Diprediksi di Bawah US$ 20, Analis: Paling Suram
ANTARA FOTO/REUTERS/Stephanie McGehee
Ilustrasi, pedagang saham Kuwait terlihat di aula perdagangan pasar saham Kuwait Boursa di kota Kuwait, Kuwait, Senin (16/9/2019).

Analis memperkirakan harga minyak bakal di bawah US$ 20 per barel pada Kuartal II 2020. Mereka menilai, permintaan minyak di tengah pandemi corona merupakan yang paling suram.

Ada banyak faktor yang membuat harga minyak terus menurun. Pertama, permintaan yang anjlok karena bisnis terdampak pandemi corona. Analis Morningstar memperkirakan, permintaan minyak turun 2,8 juta barel per hari tahun ini, atau penurunan selama setahun terbesar dalam hampir 40 tahun.

Kedua, Arab Saudi dan Rusia masih bersitegang terkait produksi minyak. Arab bahkan berencana menambah pasokan hingga menyentuh rekor 12,3 juta barel per hari. Begitu juga dengan Rusia.

Saat ini, Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan Rusia, atau disebut OPEC+ memang mengurangi produksi minyak. Kesepakatan itu berakhir April, sehingga setelahnya mereka bisa memilih untuk menaikkan produksi.

Hal itu membuat harga minyak semakin tertekan. (Baca: Anjlok Terdalam Sejak 1991, Harga Minyak Bisa Picu Gelombang Deflasi)

Berdasarkan data Bloomberg ada Selasa (24/3) pukul 08.19 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 naik 4,48% menjadi US$ 28,24 per barel. Harga minyak WTI untuk kontrak April 2020 juga naik 4,97% menjadi US$ 24,52 per barel.

Peningkatan harga minyak hari ini didukung oleh rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) mendorong bisnis, sehingga permintaan minyak berpotensi naik. Namun, langkah AS memberikan stimulus kepada bank sentral The Fed terganjal di Senat.

Hal itu bukan hanya membuat harapan naiknya permintaan minyak bisa pupus, tetapi harga bensin ikut anjlok 32% ke rekor terendah. Sebab, banyak negara membatasi perjalanan dan melarang warganya ke luar rumah guna menekan penyebaran virus corona.

(Baca: Trump Kirim Utusan ke Arab Saudi Guna Stabilkan Harga Minyak )

Padahal, warga Negeri Paman Sam mengonsumsi lebih dari 9 juta barel bensin per hari. Jumlahnya hampir setengah dari konsumsi minyak harian di negara tersebut.

"Tidak ada yang mengemudi, tidak ada bisnis, tidak ada yang membutuhkan bensin, dan itu bisa menjadi jauh lebih buruk," kata Futures Director di Mizuho Securities yang berbasis di New York, Bob Yawger, dikutip dari Reuters, Selasa (24/3).

Analis juga mengaitkan jatuhnya harga bensin dengan kegagalan Senat A. AS untuk melewatkan paket $ 2 triliun yang diperkirakan untuk meningkatkan ekonomi, karena permintaan bahan bakar terkait dengan output ekonomi.

Harga minyak WTI dan Brent juga telah turun selama empat minggu berturut-turut. Bahkan, WTI sempat merosot 29% akhir pekan lalu, merupakan penurunan terdalam sejak awal Perang Teluk AS-Irak pada 1991.

(Baca: Harga Minyak Cetak Rekor Baru, Naik 24% Menjadi US$ 25 per Barel)

Global head of commodity research Citi Ed Morse memperkirakan, harga minyak di bawah US$ 20 per barel untuk sebagian besar kuartal kedua. "Saya pikir bisa jauh lebih rendah," katanya dikutip dari CNBC Internasional. "Kami tidak berpikir pukulan satu-dua sudah berakhir, terutama pada sisi permintaan di mana dampak dari penurunan penggunaan bahan bakar di Eropa dan AS baru saja dimulai."

Analis Rystad Energy Louise Dickson mengatakan, penurunan permintaan akibat pandemi corona merupakan yang terburuk. "Ini merupakan gambaran permintaan minyak yang paling suram yang telah kita saksikan dalam waktu yang lama dengan keruntuhan serentak bahan bakar jet, bensin, bahan bakar pengiriman, petrokimia, dan minyak yang digunakan untuk pembangkit listrik," kata dia.

“Setiap hari tampaknya ada pintu jebakan lain yang terletak di bawah harga minyak, dan kami berharap melihat harga terus bergolak sampai keseimbangan biaya tercapai dan produksi ditutup," ujar Dickson.

(Baca: Harga Minyak Terus Turun Menyentuh US$ 23, Terendah sejak Tahun 2002)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan