Sejarah Pandemi dan Epidemi di Dunia yang Memicu Gejolak Politik

Penulis: Muhammad Ahsan Ridhoi

25/3/2020, 11.24 WIB

Pandemi dan Epidemi pernah menciptakan gejolak politik sampai menumbangkan sebuah rezim.

Kevin Lamarque
ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque/ama/dj
Kevin Lamarque "Kesedihan meletakkan wajahnya yang tertutup di bahu Sejarah dan menangis dalam duka" seperti yang terlihat di Monumen Perdamaian di depan gedung Capitol di Washington, Amerika Serikat, Senin (23/3/2020). Senat Amerika gagal mencapai kesepakatan mengenai paket stimulus ekonomi yang luas di tengah penularan virus COVID-19 pada hari Senin.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Dunia bukan sekarang saja bergejolak karena penyakit. Pandemi seperti virus Corona pernah menimpa umat manusia sebelumnya dan mengakibatkan kematian massal. Misalnya pandemi flu babi atau swine flu pada 2009 yang menewaskan hingga ratusan ribu orang di dunia.

Selain pandemi, manusia pun pernah tertimpa epidemi. Misalnya epidemi HIV pada 1980-an yang menimpa ratusan ribu orang termasuk vokalis Queen Freddy Mercury dan SARS pada 2003 yang menyebabkan 800 orang meninggal dunia di 34 negara.

Klasifikasi penyakit termasuk pandemi, endemi atau wabah berdasarkan luas wilayah yang terdampak dalam waktu tertentu. Jika sangat luas dan simultan penyebarannya, maka bisa disebut sebagai pandemi. Corona telah menyebar ke lebih dari 169 negara dunia dengan angka kematian menurut John Hopkins University and Medicine sampai 24 Maret 2020 sebanyak 17.241 jiwa. Di Indonesia sudah 686 kasus dengan 55 orang meninggal.

Virus Corona atau Covid-19 masih satu keluarga dengan SARS dan MERS. Namun, Corona paling cepat menyebar antar manusia. Data Reuters pada 1 Februari 2020 menyatakan, virus yang bermula dari Wuhan, Tiongkok ini menimpa 1000 orang dalam 48 hari pertama. Data selengkapnya perbandingan kecepatan penyebaran Corona, SARS dan MERS bisa dilihat dalam Databoks di bawah ini:

 

Akan tetapi, sejarah juga mencatat pandemi dan epidemi dapat membuat gejolak politik selain menciptakan kematian. Karena, seperti dikatakan Profesor Emeritus Bidang Sejarah Pengobatan Universitas Yale Frank M. Snowden dalam wawancaranya dengan The New Yorker, pandemi maupun endemi akan memengaruhi stabilitas struktur sosial dan ekonomi dalam masyarakat yang bisa berimbas pada gejolak politik.

Pandemi dan epidemi, kata Snowden, bukan kejadian acak yang menimpa umat manusia tanpa peringatan. Setiap masyarakat punya kelemahan dalam menghadapi penyakit. Untuk mengetahuinya, menurutnya penting mempelajari struktur sosial dan prioritas politik di dalam masyarakat tersebut.

Dalam kasus pandemi Corona, telah terlihat dampaknya secara sosial akibat kemerosotan ekonomi yang ditimbulkannya. Contohnya kegiatan panic buying dan ancaman pengangguran massal karena PHK.

Berikut adalah pandemi dan epidemi yang berimbas ke politik:

Flu Kuning

Flu kuning atau yellow fever adalah epidemi yang menurut History.com menimpa Amerika Serikat. Flu kuning pertama muncul di negara Paman Sam sekitar tahun 1690-an. Namun, penyakit ini baru menjadi endemi pada 1793 dan menewaskan lebih kurang 500 orang. Epidemi ini pun sampai ke Haiti pada 1800-an awal.

Penyebaran flu kuning melalui gigitan nyamuk seperti malaria dan demam berdarah. Gejala flu kuning adalah mengalami demam dan nyeri di tulang. Saat ini vaksin flu kuning telah ditemukan dan mudah didapatkan di pasaran. Oleh karena itu, penyakit ini sudah hampir tak menjangkiti manusia.

Dampak politik dari flu kuning, adalah kemerdekaan Haiti pada 14 Agustus 1804. Pemimpin pemberontakan budak Haiti Toussaint L’Ouverture, seperti dikatakan Snowden kepada The New Yorker, berhasil mengalahkan pasukan Napoleon Bonaparte yang ingin mengembalikan perbudakan di sana. Karena, pasukan Napoleon banyak terkena flu kuning sementara para budak kulit hitam memiliki imun tubuh lebih kuat dari mereka.

Dari sudut pandang Amerika Serikat, kata Snowden, flu kuning juga menguntungkan. Flu kuning membatalkan rencana Napoleon Bonaparte melanjutkan pendudukan Dunia Baru. Napoleon memutuskan menjual wilayah Louisiana kepada Thomas Jefferson pada 1803 dan membuat wilayah Amerika Serikat seluas sekarang. Kejadian ini dikenal sebagai Louisiana Purchase.

HIV

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem ketahanan tubuh manusia, terutama sel CD4. Penyakit ini merebak di dunia pada 1980-1990an dan menjadi epidemi. Termasuk di Haiti.

Menurut Richard J. Evans dalam pendauhulan artikelnya berjudul Epidemics and Revolutions: Cholera in Nineteenth-Century Europe, HIV merebak di Haiti pada Juli 1982. Pemerintahan Haiti saat itu di bawah kendali rezim Jean-Claude Duvalier menuduh kaum homoseksual yang membawa epidemi ini.

Namun apapun tuduhan penyebabnya, HIV telah menjangkiti banyak warga Haiti dan mengakibatkan kemerosotan ekonomi. Pemasukan utama Haiti melalui pariwisata dengan wisatawan terbanyak dari Amerika Serikat. Akibat HIV, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan larangan kunjungan ke Haiti. Ekonomi Haiti merosot tajam.

Revolusi sosial akhirnya terjadi untuk menuntut Duvalier mundur. Awal 1986 pemimpin Haiti berjuluk Baby Doc akhirnya lengser dari jabatannya. Rumor yang berkembang menyebut Baby Doc pun mengidap HIV.

KAMPANYE PENCEGAHAN HIV AIDS
KAMPANYE PENCEGAHAN HIV AIDS (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

 

Kolera

Kolera meskipun masih dikenal sebagai epidemi tapi telah memiliki syarat sebagai pandemi, karena persebaran dan dampaknya yang simultan pada manusia. Merujuk artikel Richard J. Evans, kolera menyebar ke dunia dalam gelombang berseri dan menewaskan ratusan ribu manusia.

Gelombang pertama dimulai di India pada 1817, lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang dan sebagian Asia Tenggara, ke Madagascar dan Afrika Timur dan berakhir di Anatolia dan Kaukus pada 1823. Gelombang terakhirnya berlangsung pada 1861 sampai 1975 yang dengan serius menimpa Asia, termasuk Indonesia. Seluruh gelombang membuat semua benua di dunia pernah tertimpa kolera.

Besarnya dampak penyakit yang dari penelitian Ilmuwan Italia Filippo Pacini diketahui disebabkan bakteri Vibrio Cholerae ini, membuat peraih Nobel Sastra asal Kolombia Gabriel Garcia Marquez mengabadikannya sebagai judul novelnya: Love in The Time of Cholera.

Masa kolera yang panjang menciptakan dampak politik di beberapa tempat dan kejadian. Perang Franco-Prussian adalah salah satu yang terdampak kolera. Pada 1871 pandemi ini telah sampai di Eropa, tempat perang berlangsung. Akibatnya adalah demobilisasi pasukan di pihak Perancis karena banyak terserang kolera yang sekaligus mengakhiri perang ini.

Perancis memang mendapat dampak serius dari pandemi kolera selama puluhan tahun. Lebih kurang 40 tahun sebelumnya, Richard J. Evans mencatat pandemi ini menyebabkan revolusi Paris pada 1832. Saat itu Paris adalah kota yang kotor dan membuat kolera mudah tersebar. 20 ribu orang meninggal akibat Kolera di Paris.

Cepatnya orang meninggal membuat masyarakat Paris was-was dan terpancing kasak-kusuk bahwa pengidap kolera yang dirawat sengaja dibunuh. Sassus tersebut berubah menjadi gerakan perlawanan setelah anggota parlemen yang terkenal kritis, Jean Maximilien Lamarque meninggal akibat kolera.

Kelompok Société des droits de l'homme pun menghimpun massa hingga akhirnya pecah revolusi. Ribuan orang menduduki distrik-distrik di Perancis dan menciptakan pergolakan dengan Garda Nasional selama beberapa jam. Hasilnya, 160 orang di kedua kubu meninggal. Namun pemberontakan gagal.

 

            

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan