Oxford Gandeng Raksasa Farmasi AstraZeneca Produksi Vaksin Corona

Penulis: Ameidyo Daud

30/4/2020, 21.55 WIB

Mereka menargetkan vaksin virus corona mulai diproduksi akhir 2020

oxford, vaksin, virus corona
ANTARA FOTO/Moch Asim
Penelitian cairan (ekstraksi) struktur pernafasan (respirasi) kelelawar di Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/2/2020). Universitas Oxford (30/4) gandeng AstraZeneca untuk memproduksi vaksin virus corona Covid-19.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Kabar kemajuan pengembangan vaksin virus corona Covid-19 terus disampaikan Universitas Oxford, Inggris. Usai memulai uji coba klinis, mereka menggandeng raksasa farmasi AstraZeneca PLC untuk memproduksi dan mendistribusikan antivirus corona.

Guru Besar Kedokteran Universitas Oxford, Prof. Sir John Bell mengatakan kerja sama ini bertujuan untuk memproduksi puluhan juta dosis vaksin corona pada akhir tahun nanti. Apalagi perguruan tinggi prestisius tersebut tidak mampu membuat antivirus dalam skala besar.

"Kapasitas produksi kami di Inggris tidak sesuai dengan kebutuhan, dan kami akan bekerja sama dengan AstraZeneca untuk meningkatkan itu," kata Bell dilansir dari BBC, Jumat (30/4).

(Baca: Ilmuwan Inggris Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Virus Corona ke Manusia)

Bell mengatakan hasil uji coba vaksin corona pada manusia yang dilakukan pihaknya akan terlihat hasilnya pada Juni mendatang. Dari situ Oxford akan mendapatkan sinyal apakah antivirus bekerja dengan baik untuk membentuk kekebalan terhadap Covid-19. “Hasil pertama harus tersedia pada pertengahan Juni,” katanya pada laman CNN.

CEO AstraZeneca Pascal Soriot mengatakan kebutuhan akan vaksin corona saat ini sangat mendesak. Makanya ia berharap proyek kolaborasi ini akan memudahkan produksi dan distribusi penangkal Covid-19.

“Serta melindungi orang-orang dari pandemi paling mematikan dalam satu generasi," katanya.

Dari laman Forbes, pada tahun 2019 AstraZeneca merupakan perusahaan farmasi terbesar kedelapan di dunia. Total nilai penjualan produk perusahaan yang bermarkas di Cambridge itu mencapai US$ 23,9 miliar atau setara hampir Rp 358 triliun pada tahun lalu.

Tak hanya Oxford, Perusahaan bioteknologi asal Jerman yakni BioNTech SE telah memulai uji coba klinis kandidat vaksin Covid-19 yakni BNT 162 sejak Kamis (23/4). Antivirus ini dikembangkan bersama raksasa farmasi Amerika Serikat yakni Pfizer.

Otoritas AS juga telah memberi lampu hijau kepada Pfizer untuk menggelar uji coba klinis BNT 162 pada pekan depan. Pfizer-BioNTech menargetkan vaksin ini dapat diproduksi akhir tahun ini.

“Tergantung pada keberhasilan teknis dari program pengembangan vaksin,” bunyi keterangan tertulis Pfizer.

(Baca: Perusahaan Jerman Jajal Kandidat Vaksin Virus Corona pada Manusia )

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan