Rantai Pasok Dunia Terganggu Pandemi, Peluang Baru bagi Krakatau Steel

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

20/5/2020, 18.50 WIB

Salah satu peluang yang bisa dijajaki Krakatau Steel di masa pandemi adalah produksi alat kersehatan yakni jarum suntik.

krakatau steel, kementerian bumn, bumn, pandemi corona
Arief Kamaludin | Katadata
Kementerian BUMN mendorong agar Krakatau Steel dan BUMN lainnya bisa mencari peluang bisnis baru di tengah pandemi corona.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) untuk jeli melihat peluang bisnis di tengah pandemi corona. Pasalnya, pandemi ini berdampak besar ke sistem rantai pasok dunia.

"Covid-19 ini selain menciptakan ketidakpastian dan tidak enak buat seluruh bisnis di Indonesia, tapi juga menciptakan kesempatan bagi yang jeli melihat peluang ke depan," kata Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin, Rabu (20/5), dalam webinar.

Budi menilai, karena pandemi ini, banyak negara akhirnya berpikir tidak lagi bergantung pada suplai atau produksi dari luar negeri. Banyak pihak mulai merasa keamanan dan ketahanan nasional harus dibangun dengan kesiapan dari dalam negeri.

Untuk itu, Budi mendorong Krakatau Steel terus menjalin komunikasi dengan regulator dan juga pelanggannya agar menjalin kesepakatan. Hal itu untuk memastikan bahwa sekarang adalah kesempatan emas produk lokal bisa kuasai konsumsi baja di dalam negeri.

(Baca: Tiga Skenario Pemerintah Selamatkan BUMN dari Pandemi Corona)

Dia menggambarkan, peluang bisnis yang bisa dijajaki oleh perusahaan baja milik negara tersebut dengan memasok bahan baku jarum suntik karena terbuat dari baja. Pasalnya, kebutuhan jarum suntik rata-rata di Indonesia sebanyak 2 jarum per kapita.

Artinya, dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta, ada kebutuhan jarum suntik sekitar 400-500 juta. "Tapi, itu rendah. Negara maju itu bisa 10-12 jarum per kapita. Kalau dikali 250 juta kan ada sekitar 2,5 miliar kebutuhan jarum suntik dari baja," kata Budi.

Budi mengakui memang industri farmasi bukanlah konsumen utama produk baja yang besar. Pasalnya, karena biasanya baja diserap oleh konstruksi dan otomotif. Tapi hal tersebut gambaran bahwa ada peluang baru karena meningkatnya keperluan jarum suntik di tengah pandemi corona.

"Pesannya, setiap ada krisis, satu sisi ada bencana tapi sisi lain ada kesempatan. Kita harus geser kesempatan dimana. Khusus baja, coba cari dengan cermat opportunity dimana baja bisa masuk," kata Budi.

(Baca: Erick Thohir Dorong Krakatau Steel Jadi Induk Usaha Investasi Baja)

Selain itu, secara umum memang industri baja Indonesia bukan merupakan industri baja paling efisien di dunia. Akibatnya, dengan adanya globalisasi perdagangan, industri baja dalam negeri mengalami tekanan cukup berat.

Harapan lain dari Budi adalah pemain di industri baja dalam negeri, mampu bergerak lebih efisien dan meningkatkan produktivitas. Keduanya harus dibangun dan ditingkatkan, sehingga bisa bersaing dengan industri baja global lain yang saat ini memenuhi permintaan baja di dalam negeri.

"Demand itu harus diusahakan bisa disuplai oleh baja lokal. Pekerjaan rumah industri adalah produktivitas dan efektivitas industri baja nasional harus ditingkatkan agar mendekati benchmark industri baja global," kata Budi.

(Baca: Belenggu Utang dan Corona Membelit Kinerja BUMN)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan