UMKM Beralih ke Penjualan Online untuk Bertahan dari Pandemi Corona

Penulis: Fahmi Ahmad Burhan

Editor: Happy Fajrian

20/5/2020, 20.04 WIB

Masa pandemi menjadi masa yang tepat bagi UMKM untuk beralih ke ranah online dalam memasarkan dan menjual produknya.

umkm, pandemi corona, e-commerce
ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Warga memilih barang-barang belanjaan yang dijual secara daring di Jakarta, Kamis (18/7/2019). Pelaku UMKM beralih ke ranah online dalam menjual produknya untuk bertahan dari pandemi corona.

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM terdampak pandemi corona. Banyak konsumen yang mengalihkan transaksi belanjanya ke platform daring (online) melalui e-commerce. UMKM pun mengatur strategi agar bisa bertahan.

Seperti UMKM Sweet Sundae Ice Cream. Pemilik Sweet Sundae Andromeda Sindoro, mengatakan bahwa sebelum pandemi, bisnisnya berfokus pada layanan business to business (B2B) dan melayani permintaan dari hotel, restoran, dan kafe (horeka).

Namun, saat pandemi sektor horeka menjadi salah satu sektor yang paling keras terpukul. Akibatnya, permintaan produk milik UMKM yang bergerak di pengolahan susu sapi lokal ini juga ikut turun.

Untuk bisa bertahan di tengah pandemi, pihaknya pun mengubah fokus bisnis. "Kami fokuskan ke B2C (business to consumer). Kami ada produk susu segar," kata Andromeda melalui video conference pada Rabu (20/5).

(Baca: Pemerintah Gandeng Blibli Dorong Transaksi UMKM di Tengah Pandemi)

Sweet Sundae Ice Cream pun merambah ranah e-commerce. Beberapa produk kemudian diolah agar bisa diterima di pasar online. Seperti penyajiannya yang dibuat agar lebih tahan lama, atau diolah menjadi susu bubuk.

Untuk layanan B2B fokus pemasaran produknya hanya di tiga kota yakni Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya. "Kini, ada beberapa produk bahkan ke luar pulau," kata dia.

Berbeda, pelaku UMKM lainnya malah diuntungkan dengan terjadinya pandemi corona. Seperti yang dialami Bintari Saptanti, pemilik dari Bakmi Sundoro. Pasalnya, saat pandemi, ada tren peningkatan permintaan produk cepat saji atau produk beku di marketplace.

Dari tren tersebut, Bintari pun memaksimalkan penjualan produk bakmi miliknya secara online melalui e-commerce. "Jadinya di pandemi, omsetnya naik 100%. Sebelum pandemi penjualan malah lesu," katanya, juga melalui dalam video conference.

(Baca: Sri Mulyani: Penempatan Dana Pemerintah di Bank Khusus untuk UMKM)

Dia pun mengemas produknya tersebut agar tampilannya lebih menarik. "Kami validasi rasa, memastikan agar diterima dengan baik, ada goreng dan godok, bumbu pasta khas Jogja," ujar dia.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa masa pandemi sebenarnya menjadi kesempatan bagi UMKM untuk migrasi ke pasar online. "Pak Jokowi beri arahan ke saya, beliau punya visi ke depan, digitalisasi UMKM. Saat ini (pandemi) jadi momentum percepat transformasi dari offline ke online," kata dia.

Namun, dengan persaingan yang ketat, migrasi tidak menjamin UMKM akan lebih sukses, tetap dibutuhkan peningkatan kualitas. Teten mengatakan, pihaknya menggandeng berbagai e-commerce untuk bisa meningkatkan kualitas produk UMKM di pasar online.

Kementerian mencatat dari total sekitar 64 juta UMKM, hanya sekitar 8 juta-nya saja yang sudah bermigrasi dari offline ke online. Untuk itu, ia menargetkan lebih banyak lagi UMKM bermigrasi ke online.

(Baca: Mengobati UMKM untuk Memulihkan Ekonomi dari Pandemi)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan