Jusuf Kalla Sebut Indonesia Lewatkan Momen Emas Cegah Corona

Penulis: Muhammad Ahsan Ridhoi

23/5/2020, 12.38 WIB

Jusuf Kalla menilai seharusnya pemerintah memaksimalkan pencegahan corona pada Februari sampai Maret lalu.

Jusuf Kalla Sebut Indonesia Lewatkan Momen Emas Cegah Corona
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Ilustrasi. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pidato ilmiah saat penganugerahan Doktor Honoris Causa (HC) di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Senin (13/1/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019, Jusuf Kalla menilai Indonesia telah kehilangan momen emas atau golden moment dalam mencegah penyebaran virus corona. Seharusnya pemerintah memaksimalkan pencegahan pada Februari sampai Maret lalu.

"Vietnam ketat cegah dua bulan itu, hasilnya bisa dikendalikan sekarang," kata pria yang akrab disapa JK ini, dalam diskusi virtual 'Belajar dari JK: Solidaritas Menghadapi Pandemi', Sabtu (23/5).

Karena, kata JK, dalam kesehatan rumus baku yang berlaku adalah mencegah lebih baik daripada mengobati. Sementara selama masa emas tersebut pemerintah dan masyarakat Indonesia lebih sibuk memperdebatkan cara pengobatan covid-19.

"Kita bebankan semua ke dokter. Padahal dokter itu lini kedua, yang penting pencegahannya. Pertahanan pertama," kata JK.

(Baca: JK: Kurangnya Ketegasan Pemerintah Bisa Berbuah Masalah Besar Corona

Selain karena sibuk berdebat, JK menilai pemerintah di awal pandemi cenderung menganggap enteng virus corona. Ia pun menyindir pernyataan Menkes Terawan pada 2 Maret lalu bahwa virus corona bisa sembuh sendiri.  "Kita kan menganggap bisa sembuh sendiri. Masih ingat kan yang bilang begitu?", kata JK.

Pencegahan yang semestinya dilakukan pemerintah saat itu, kata JK, adalah pembatasan sosial dengan ketat dan penyemprotan disinfektan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya tempat umum.

JK mengaku di akhir Februari telah memperingatkan bahaya virus corona kepada pemerintah. Namun, menurutnya, saat itu pemerintah lebih sibuk memperdebatkan istilah lockdown dan pembatasan sosial. "Kita memang lebih banyak berdebat daripada berbuat," kata JK.

(Baca: Jusuf Kalla Ingatkan Bahaya Investasi Asing Lari Pasca-Pandemi)

Akan tetapi, kata JK, pemerintah masih bisa mengupayakan pencegahan penambahan kasus positif dengan cara lebih mengetatkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang saat ini sudah berlaku di banyak daerah.

Caranya adalah dengan lebih konsisten dengan kebijakan yang diambil. Tidak sering mengubah kebijakan yang justru membuat masyarakat bingung dan akhirnya merasa lebih bebas melanggar aturan PSBB.

"Siapa yang keluar rumah didenda. Tidak pakai masker didenda. Harus tegas. Pusat tegas kalau bilang PSBB laksanakan sesuai aturan. Itu termasuk pemda," kata JK.

Saat ini jumlah kasus positif corona di Indonesia menurut data Kemenkes mencapai 20.796 orang. 1.326 orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara 5.057 orang dinyatakan sembuh. Pertambahan kasus selama sepekan ke belakang selalu di atas 100 orang per hari. 

Selengkapnya bisa dilihat dalam Databoks di bawah ini:

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan