Kadin: Pelonggaran PSBB Tak Mampu Tingkatkan Pendapatan Pelaku Usaha

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Ekarina

26/6/2020, 05.15 WIB

Kondisi ini diperparah dengan permintaan pasar yang masih lemah saat ini seiring dengan penuruna daya beli.

Kadin: Pelonggaran PSBB Tak Mampu Tingkatkan Pendapatan Dunia Usaha.
ANTARA FOTO/Siswowidodo/hp.
Suasana pekerja di ruang produksi pabrik rokok PT Digjaya Mulia Abadi (DMA) mitra PT HM Sampoerna. Pelonggaran PSBB dinilai belum mampu mendorong peningkatan pendapatan pengusaha.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menilai pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tak akan mampu meningkatkan pendapatan sektor usaha seperti saat kondisi normal. Pasalnya, Rosan menilai produktivitas perusahaan diprediksi akan menurun ke depan.

Penurunan produktivitas ini menurutnya disebabkan beberapa faktor, seperti penerapan jaga jarak di kantor atau pabrik. Dengan demikian, jumlah pegawai yang masuk kerja akan dibatasi.

Dia mencontohkan, satu ruangan di pabrik saat ini hanya bisa menampung maksimal 60 pekerja. Padahal sebelum adanya corona, ruangan tersebut bisa menampung 100 orang pekerja. "Juga harus ada rotasi, shift-shiftan," kata Rosan dalam diskusi virtual, Kamis (23/6).

(Baca: 7 Sektor Usaha Lesu, Kadin: 6,4 Juta Tenaga Kerja Terdampak Covid-19)

Selain itu, perusahaan kini harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk proses produksi atau operasional perkantoran. Sebab, perusahaan harus menyediakan masker dan penyanitasi tangan bagi para pekerja .

Kondisi ini diperparah dengan permintaan pasar yang masih lemah saat ini seiring dengan penuruna daya beli masyarakat akibat pandemi corona.

Atas dasar itu, dia pun meminta pemerintah bisa mempercepat pemberian stimulus bagi dunia usaha. Selain itu, dia pun mengharapkan jumlah stimulus yang digelontorkan bisa lebih besar.

Jika hal itu tidak dilakukan, Rosan khawatir banyak perusahaan yang bangkrut. Dia pun menilai perekonomian yang saat ini lumpuh sementara akan menjadi permanan ke depannya. "Ini akan menyebabkan daya saing kita juga akan makin berat ke depan," kata dia.

Sebelumnya, Kadin Indonesia mencatat lebih dari 6,4 juta tenaga kerja dirumahkan atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat corona. Wakil Ketua Umum Bidang CSR dan Persaingan Usaha Kadin Indonesia, Suryani S Motik mengatakan lesunya usaha selama pandemi membuat omzet menurun dan arus kas dunia usaha terhenti.

"Jadi sebagian besar tidak mampu membayar PHK, sebagian bisa membayar gaji tapi hanya bisa bertahan sampai Juni atau Juli," katanya dalam webinar, Kamis (18/6).

Menurutnya, banyak pengusaha tak tidak berpenghasilan atau merugi selama pandemi Covid-19. Meski demikian, pengeluaran perusahaan terus berjalan sehingga posisi keuangan perusahaan semakin tertekan.

(Baca: Gelombang PHK Sebabkan Daya Beli Kelas Menengah - Bawah Anjlok 30%)

Hingga Juli 2020, sudah ada tujuh sektor yang terdampak corona sehingga harus merumahkan atau melakukan PHK terhadap karyawan. Ketujuh sektor itu adalah perhotelan, restoran, alas kaki, retail, farmasi, tekstil, dan transportasi darat.

Rinciannya, sektor perhotelan tercatat telah merumahkan atau PHK karyawan sebanyak 430 ribu orang, berdasarkan kasus yang tercatat. Suryani meyakini, masih banyak kasus lainnya yang belum tercatat di sektor perhotelan.

Hal itu terjadi seiring dengan tingkat okupansi perhotelan yang sangat rendah sebesar 10% selama pandemi corona. Terlebih lagi, pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sebelumnya melaporkan lebih dari 2.000 hotel tutup.

Adapun, sektor restoran telah merumahkan atau melakukan PHK kepada karyawannya sebanyak 1 juta orang. dan sektor tekstil sebanyak 2,1 juta orang.

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha