Siasat UMKM Meniti Gelombang Krisis Covid-19

Sorta Tobing
25 Juni 2020, 10:00
umkm, sepeda kreuz bandung, ngopi di rumah, leonard theosabrata, pandemi corona, covid-19, virus corona
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Barista di salah satu kedai kopi #Ngopidirumah di Jakarta. Selain menerapkan protokol kesehatan untuk melayani pembeli, UMKM ini juga menjual kopi literan secara online selama pandemi corona.

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kena hantaman terbesar dari dampak pandemi corona tahun  ini. Ekonomi nasional pun terancam kolaps karena kontribusi sektor UMKM terhadap ekonomi mencapai 60% dan penyerapan tenaga kerja sekitar 90 persenan. Alhasil, pemerintah membuat berbagai kebijakan dan alokasi dana besar untuk menopang UMKM sekaligus memulihkan perekonomian nasional. 

Meski sudah banyak usaha saat ini gulung tikar karena lesunya permintaan dan penjualan, masih ada UMKM yang bertahan, bahkan tumbuh di masa krisis ini. Berbagai macam strategi dilakukan, namun yang utama adalah mengubah model bisnis dan memanfaatkan teknologi digital.

Contohnya, produsen sepeda lipat asal Bandung, Jawa Barat, bernama Kreuz. Salah satu pemiliknya, Yudi Yudiantara, mengatakan sejak Mei lalu produknya malah kebanjiran order. Saking banyaknya, pesanan untuk sepedanya sudah penuh hingga September 2021.

“Kapasitas produksi kami per bulan memang sedikit. Kami atur hanya 10 sampai 15 frame set karena produknya custom handmade,” katanya ketika dihubungi Katadata.co.id, Selasa (23/6).

Usaha pembuatan sepeda yang baru dimulai awal tahun ini langsung kebanjiran permintaan. Momennya pas dengan situasi sekarang. Banyak orang menerapkan gaya hidup sehat. Sepeda jadi pilihan untuk alat transportasi agar dapat menjaga jarak dan terhindar dari infeksi Covid-19.

(Baca: Tren Bersepeda di Tengah Corona, Pendapatan UMKM Meningkat)

Awal bisnis Kreuz pada 2018 sebenarnya membuat tas pannier yang banyak dipakai para pesepeda. Baru pada akhir 2019, Yudi dan kawannya, Jujun Junaedi, tertarik membuat sepeda lipat tiga. “Kami butuh untuk display tas, bukan untuk dijual,” ucapnya.

Tak sanggup membeli Brompton yang harganya puluhan juta rupiah, ia membuat rangka mirip sepeda asal Inggris itu. Ramping, ringan, dan terlipat tiga. Ia melakukan modifikasi dengan perbaikan di beberapa bagian. Misalnya, bagian tekukannya berbeda, ukuran baut juga tidak sama, dan fork-nya juga agak lebar. Tujuannya memang bukan meniru Brompton, hanya mempelajari desainnya.

Dari desain itu ternyata peminatnya banyak. Yudi lalu membuka toko pada April 2020 di Jalan Batik Jonas, Bandung. Di toko berukuran lima kali sepuluh meter itu, ia menerima pesanan sepeda Kreuz. Konsumen dapat membeli satu frame set sepeda Kreuz seharga Rp 3,5 juta. Untuk sepeda dalam kondisi lengkap harganya dibandrol Rp 7 juta sampai Rp 8 juta.

(Baca: Kemenkop UKM Restrukturisasi Kredit Koperasi Terdampak Covid)

Dalam pembuatannya, Yudi melibatkan 30 industri rumahan, termasuk tukang bubut, tukang cetak plastik, dan tukang cat. “Alhamdulillah di tengah pandemi ini paling tidak sampai tahun depan mereka bisa survive,” ujarnya.

Pria yang sudah berkecimpung 20 tahun di bidang ekonomi kreatif ini percaya kondisi pandemi membuka banyak peluang bisnis. Para pengusaha UMKM hanya perlu jeli melihatnya.

TRANSPORTASI ALTERNATIF PEKERJA KANTORAN SAAT PANDEMI COVID-19
Ilustrasi pengguna sepeda di tengah pandemi meningkat (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.)

Ubah Strategi Bisnis di Tengah Pandemi

Hal serupa dikatakan Direktur Utama SMESCO Leonard Theosabrata. Pandemi Covid-19 telah memaksa banyak orang melakukan akselerasi dan tangkas menemukan kesempatan. “It’s OK untuk mengarungi kehidupan baru, bahkan banting stir,” katanya.

Kehidupan normal baru atau new normal justru memunculkan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan setiap orang. Masyarakat kini lebih sadar soal kesehatan dan banyak beraktivitas di rumah. Pilihan gaya hidupnya lebih fundamental daripada sebelum Covid-19 muncul. “

Jadi, harapannya UMKM dapat berubah menyikapi tantangan pandemi ini,” kata pria yang akrab disapa Leo itu.

Selain sepeda, bisnis makanan siap saji dan makanan beku, menurut dia, sedang berkembang pesat. Pemilik Bakmi Tiga Marga itu merasakan peluang usaha tersebut.

Ketika mulai berlaku pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta pada 10 April 2020, penjualan langsung turun. Tapi ia menyiapkan amunisi lain, yaitu bisnis frozen food.

Dari penjualan secara daring atau online melalui platform e-commerce, bisnis makanan beku berkembang pesat. Dari pengalaman ini ia percaya UMKM dapat cepat bangkit di tengah krisis. “Di saat seperti ini harus reaktif saja, tapi dengan fundamental usaha yang benar,” ucapnya.

(Baca: Pandemi Covid-19 Mendorong 301 Ribu UMKM Beralih ke Online)

Pengusaha kedai kopi #Ngopidirumah, Eko Punto Pambudi, juga melihat masih ada peluang di tengah pandemi. Meskipun aktivitas masyarakat sekarang yang lebih banyak di rumah tak mengurangi kebutuhan kafein. Akhirnya banyak yang mencari kopi literan untuk stok.

Eko mulai membuat produk literan dan dijual secara online. Permintaan langsung naik, terutama melalui GoFood, GrabFood, dan Tokopedia. Hitungannya, sebotol isi satu liter setara dengan empat gelas kopi.

Halaman:
Reporter: Rizky Alika, Muhammad Ahsan Ridhoi
Editor: Yura Syahrul
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...