Mooncake Festival, Tradisi Ribuan Tahun Akan Dirayakan Besar-Besaran di Semarang

Ajeng Dwita Ayuningtyas
8 September 2026, 18:16
Kue Bulan
unsplash.com
Kue Bulan
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Semarang akan punya perayaan besar saat bulan purnama pada 25 September nanti. Untuk pertama kalinya, Mid-Autumn Festival atau yang juga dikenal dengan Mooncake Festival akan digelar secara besar-besaran selevel kota, dengan Klenteng Tay Kak Sie sebagai lokasi puncak perayaan.

Mengutip buletin Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) Edisi 50, tradisi Tionghoa ini telah berlangsung selama ribuan tahun. Perayaan jatuh pada tanggal 15 bulan kedelapan dalam kalender lunar, ketika bulan purnama muncul.

Perayaan ini berkaitan dengan pergantian musim panas menuju musim gugur, sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada bulan yang dipercaya memberi manfaat bagi kehidupan di bumi.

Mooncake Festival di Semarang terbuka untuk umum, sehingga masyarakat bisa menikmati festival sambil mengenal lebih dalam tradisi Tionghoa.

“Semua orang bisa merayakan, menikmati kegembiraan dari Mooncake Festival ini. Dengan harapan yang baik-baik untuk kita semua,” kata Ivan Eko Harahap, Wakil Sekretaris Yayasan Klenteng Tay Kak Sie Semarang, dalam perbincangan dengan Katadata, awal September lalu.

Perayaan akan dimeriahkan pertunjukan seni, festival kuliner, aktivitas keluarga, hingga parade budaya yang melibatkan berbagai komunitas. Dan tentunya, akan ada santap bersama kue bulan alias mooncake, yaitu kue berbentuk bulat mirip bulan purnama, dengan ukiran khas di atasnya.   

“Kalau mid-autumn itu santap kue bulan. Kuenya bulat, kami memaknainya dengan keutuhan, kerukunan, keluarga yang utuh,” ujar Ivan. 

Dengan diameter yang umumnya sekitar 10 cm, kue bulan akan dipotong-potong menjadi beberapa bagian sebelum disantap. Dengan begitu, satu kue bisa dinikmati oleh banyak orang: simbol berbagi dan keharmonisan. 

Dua Bulan Menunggu Kue Bulan

Membuat mooncake tidak sesederhana membuat roti. Hal ini diceritakan Chendra, pemilik toko roti di Pasar Gang Baru, di kawasan Pecinan, Semarang.

Sejak 1976, dia menjalankan toko roti ini bersama istrinya dan setiap tahun selalu menjual mooncake.

"Tidak semua orang bisa membuat mooncake. Soalnya itu juga tradisi, jadi tidak semudah membuat roti,” ujar Chendra yang sudah berusia 76 tahun itu. 

Butuh berbulan-bulan untuk mempersiapkan kue bulan. “Adonan kulitnya itu pakai gula sama tepung, gulanya itu harus tunggu (didiamkan) sampai dua bulan,” ujarnya. 

Karena itu, persiapannya dilakukan jauh sebelum bulan purnama muncul. Apalagi, tahun ini, Chendra membuat sampel mooncake untuk calon pembeli dari luar kota.

“Kemarin kami sudah bikin untuk sampel orang yang pesan dari Surabaya, dari Jakarta,” kata dia. 

Bagi Chendra, membuat mooncake bukan sekadar memenuhi pesanan menjelang sebuah perayaan. Ada tradisi yang ikut dipertahankan melalui setiap adonan dan cetakan kue yang dibuatnya.

Dan tahun ini, tradisi itu akan dibawa ke "panggung" yang lebih besar.

 

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...