Kabupaten Kepahiang Ekspor Perdana 19 Ton Kopi Bengkulu ke Italia
Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mengekspor 19,2 ton kopi robusta dari perkebunan petani di wilayahnya ke Italia. Ekspor perdana kopi Bengkulu ke pasar Eropa itu untuk memperkenalkan secara khusus identitas kopi Bengkulu.
Selama ini, kopi dari Bengkulu memang telah masuk pasar ekspor. Namun, komoditas tersebut kerap dikumpulkan bersama kopi dari daerah lain dan dipasarkan melalui eksportir di Lampung. Kondisi itu membuat nama Bengkulu tidak selalu ikut dikenal oleh pembeli.
"Bengkulu punya kopi, Lampung punya nama," kata Wakil Gubernur Bengkulu Mian, di Kabupaten Kepahiang, seperti dikutip Antara.
Hal itu perlu diubah agar kopi Bengkulu dapat membawa identitas daerahnya sendiri di pasar global. Ekspor ke Italia menjadi langkah awal untuk mewujudkan hal tersebut.
Sebanyak 19,2 ton kopi robusta asal Kepahiang dikirim dengan dilengkapi Certificate of Origin yang mencantumkan Bengkulu sebagai daerah asal. Namun, ekspor perdana tersebut perlu diikuti pengiriman berikutnya agar tidak berhenti hanya satu kali pengiriman. Kepastian kualitas dan pasokan menjadi hal penting untuk mempertahankan kepercayaan pembeli.
Pemerintah Kabupaten Kepahiang meningkatkan kemampuan petani melalui sekolah kopi. Sekitar 60 kelompok tani telah mendapat pelatihan mengenai budidaya dan standar kualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pemkab juga menargetkan produktivitas kopi meningkat dari sekitar 875 kilogram per hektare menjadi 1,5 ton per hektare. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan pengetahuan petani, bantuan, serta dukungan program pemerintah.
Bidik Ekspor Mandiri
Penguatan produksi juga dilakukan bersama Kabupaten Rejang Lebong dan Lebong sebagai daerah penghasil kopi di Bengkulu. Pemerintah provinsi turut menyediakan bibit kopi sambung untuk pengembangan perkebunan seluas 1.300 hektare di sejumlah daerah
penghasil kopi.
Di sisi lain, pemerintah menyiapkan fasilitas pendukung agar Bengkulu dapat melakukan ekspor secara mandiri. Salah satunya melalui revitalisasi Pelabuhan Pulau Baai yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap jalur ekspor dari provinsi lain.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan ekspor dengan identitas daerah dapat meningkatkan nilai tambah kopi, terutama dari sisi harga.
"Kopi ini kan masalah cita rasa, masalah gaya hidup, style, jadi nama itu punya peranan yang sangat penting. Nilai suatu produk sering kali ditentukan bukan hanya karena kualitas, tapi juga ditentukan namanya," kata Wahyu, dikutip dari Antara (8/9). Peningkatan nilai kopi diharapkan berdampak pada kesejahteraan petani, pertumbuhan UMKM, serta aktivitas ekonomi daerah.
Ekspor perdana ke Italia memang baru satu kontainer. Namun, pengiriman tersebut menjadi langkah awal bagi Bengkulu untuk membawa kopi beserta identitas daerahnya ke pasar internasional.
