Moncernya Harga Batu Bara Menggoda Produsen untuk Ekspor Ketimbang DMO

Image title
13 Juli 2021, 07:43
batu bara, dmo, ekspor batu bara, harga batu bara
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (13/6/2020).

Kenaikan harga batu bara di pasar internasional disinyalir bakal menjadi ancaman bagi kebutuhan pembangkitan listrik di dalam negeri. Setelah sempat terpuruk akibat anjloknya permintaan pada 2020, harga emas hitam kini bangkit menembus US$ 100 per ton.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa ia khawatir pasokan batu bara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN akan tersendat dengan adanya kenaikan harga tersebut.

Advertisement

Pasalnya, pemerintah telah menghapuskan sanksi terhadap produsen batu bara yang tidak memenuhi persentase minimal penjualan batu bara untuk kepentingan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO).

"Harganya sendiri sebenarnya sudah dikunci di US$ 70 per ton. Namun komitmen volumenya ini yang perlu dijaga," ujar Komaidi kepada Katadata.co.id, Senin (12/7).

Oleh karena itu, meskipun telah diatur mengenai penetapan harga jual batu bara bagi penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. Namun, komitmen produsen batu bara untuk dapat memasok kebutuhan ke dalam negeri masih dipertanyakan.

Apalagi menurut Komaidi selisih antara harga batu bara acuan (HBA) Juli yang ditetapkan sebesar US$ 115 per ton sangat jauh jika dibandingkan dengan DMO ke PLN yang ditetapkan sebesar US$ 70 per ton.

Artinya ada selisih sekitar Rp 7,89 triliun jika mengacu pada rencana konsumsi batu bara PLN tahun 2021 yang sekitar 121 juta ton. Angka Rp 7,89 triliun tersebut tentu akan sangat menarik bagi produsen batu bara.

"Kalaupun bayar denda, jika masih lebih positif daripada ke PLN mungkin juga berpeluang diambil. Apalagi kalau tidak ada denda," katanya. Simak pergerakan harga batu bara acuan Indonesia pada databoks berikut:

Oleh karena itu, ia menyarankan supaya pemerintah proporsional dalam melihat kondisi tersebut. Perlu memformulasikan apakah harga dipatok tetap seperti saat ini, atau dibuat mengambang berdasarkan formulasi tertentu.

Ketua Indonesian Mining & Energy Forum Singgih Widagdo menilai harga internasional yang cukup tinggi memang sangat menguntungkan bagi perusahaan batu bara, khususnya yang selama awal tahun pandemi sangat tertekan.

Namun bagi Kementerian ESDM, selain akan memperbesar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dengan disparitas harga yang cukup tinggi antara harga ekspor dan ketetapan harga untuk kelistrikan umum, ini juga akan memberikan potensi komitmen perusahaan batu bara terhadap DMO.

Halaman:
Reporter: Verda Nano Setiawan
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement