Belajar dari Krisis Energi Eropa, Asia Harus Diversifikasi Energi
Amerika Serikat (AS) dan Badan Energi Internasional (IEA) mendesak agar negara-negara Asia belajar dari krisis energi yang melanda Eropa saat ini dan mendiversifikasi sumber energi dan mineral mereka agar tidak bergantung pada negara-negara seperti Cina dan Rusia.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dan Menteri Energi AS Jennifer Granholm mengatakan krisis energi yang terjadi saat ini akibat sanksi terhadap Rusia harus memacu negara-negara Indo-Pasifik agar lebih fokus untuk mengurangi bahan bakar fosil.
Namun di sisi lain, Birol dan Granholm menyadari bahwa Cina dan Rusia menjadi dua negara penting dalam upaya transisi energi global. Cina dengan pengembangan teknologi tenaga surya dan Rusia dengan pasokan mineral yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik dan baterai.
Birol mengatakan Cina menyumbang 80% dari rantai pasokan global teknologi surya dan pada tahun 2025 akan tumbuh menjadi 95%.
"Kami ingin memastikan bahwa kami tidak sebagai negara tidak ingin berada di bawah arahan mereka (Cina dan Rusia) yang ingin mengendalikan aspek strategis dari rantai pasokan energi, " kata Granholm di Forum Energi Sydney, sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada Selasa (12/7).
Birol dan Granholm mengatakan di forum tersebut agar sebuah negara jangan menggantungkan sumber bahan bakar maupun teknologi ke pemasok tunggal. Eropa sudah memperlihatkan kekacauan tersebut usai mereka kehilangan pasokan energi Rusia.
"Saya khawatir Cina memiliki banyak teknologi dan rantai pasokan yang bisa membuat kita rentan, jika kita tidak mengembangkan rantai pasokan kita sendiri," kata Granholm.
Demi menjaga pasokan energi, Birol mengajak agar seluruh negara dapat menurunkan permintaan gas, baru bara dan minyak untuk segera beralih kepada energi bersih. Ia pun menambahkan, langkah untuk mendongkrak investasi pada bahan bakar fosil saat momentum lonjakan harga merupakan hal yang berisiko.
Dia pun menegaskan, investasi pada sektor bahan bakar fosil hanya akan berjalan dalam beberapa tahun karena tren dunia yang beralih ke energi bersih.
Birol menilai saat ini investor akan mempertimbangkan risiko iklim dan risiko bisnis sebelum melangkah lebih jauh. "Kita harus menurunkan permintaan gas, batu bara, dan minyak jika kita ingin mencapai target iklim kita," kata Birol.
Pada forum tersebut, Granholm dan Menteri Energi Australia Chris Bowen menandatangani kesepakatan bagi kedua negara untuk bekerja sama dalam penelitian energi, termasuk menurunkan biaya penyimpanan energi jangka panjang dan elektroliser untuk produksi hidrogen.
Lima negara di Eropa telah menyatakan krisis energi, terutama gas yang mengancam persediaan listrik disana. Kelima negara tersebut adalah Jerman, Swedia, Belanda, Austria, dan Denmark. Sumber energi yang terganggu pasokannya ini termasuk minyak bumi, gas, dan batu bara.
Untuk menghemat gas, Jerman dan Austria sudah mengumumkan penyalaan darurat pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Padahal, Austria adalah negara kedua di Eropa setelah Swedia yang sudah menyetop penggunaan batu bara sebagai sumber energi. Langkah ini akan diikuti Italia dalam waktu dekat.
Belanda juga sudah mencabut pembatasan operasional pembangkit tenaga batu baranya. Menteri Iklim dan Energi Belanda Rob Jetten sendiri yang menyampaikan keputusan itu di Den Haag, Senin (20/6).
Sebagai informasi, Belanda sudah membatasi produksi pembangkit menjadi hanya sepertiga dari total kapasitas, demi menekan emisi karbondioksida.
