Harga Minyak Turun 3% Lebih ke Level US$ 92 per Barel

Syahrizal Sidik
2 September 2022, 07:27
Harga Minyak Turun 3% Lebih ke Level US$ 92 per Barel
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Ilustrasi. Harga minyak dunia kembali turun di bawah US$ 100 per barel karena menguatnya dolar AS.

Harga minyak dunia kembali melanjutkan tren penurunan lebih dari 3% pada perdagangan Jumat pagi ini (2/9). Pelemahan tersebut dipicu oleh menguatnya dolar Amerika Serikat dan kebijakan karantina wilayah ketat di Cina untuk mencegah penyebaran pandemi virus Corona.

Di sisi lain, harga minyak kian tertekan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga akan mengurangi permintaan bahan bakar. Selain itu, negara-negara yang tergabung dalam kelompok G7 juga belum mencapai kesepakatan mengenai pembatasan harga minyak dari Rusia.

Advertisement

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober kehilangan US$ 2,94 atau 3,3% menjadi US$ 86,61 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan minyak mentah berjangka jenis Brent untuk pengiriman November jatuh US$ 3,28 atau 3,4%, menjadi US$ 92,36 per barel di London ICE Futures Exchange.

Kekhawatiran bahwa ekonomi global yang melambat akan mengurangi permintaan bahan bakar terus membebani pasar. Hal ini terindikasi dari aktivitas pabrik di Asia yang merosot pada Agustus karena pembatasan nol-Covid di Cina dan tekanan biaya.

Pusat teknologi Cina Selatan, Shenzhen, memperketat pembatasan Covid-19 karena kasus terus meningkat. Acara besar dan hiburan dalam ruangan ditangguhkan selama tiga hari di distrik terpadat di kota itu, Baoan.

Seperti dikutip dari Antara, kenaikan tajam dalam dolar AS juga menghadirkan hambatan. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, melonjak 0,92 persen menjadi 109,6930 pada akhir perdagangan Kamis (1/9/2022). Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.

Indeks dolar mencapai level tertinggi 20 tahun setelah data AS menunjukkan ekonomi yang kuat, memberi Federal Reserve lebih banyak ruang untuk menaikkan suku bunga. Greenback yang lebih kuat membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

"China melakukan putaran penguncian Covid lainnya di terminal ekspor utama," kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial seperti dikutip Reuters, yang bersama dengan "dolar AS yang sangat kuat menyebabkan likuidasi dana lebih lanjut dalam minyak mentah berjangka,"

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Reporter: Antara
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement