Harga Minyak Turun ke US$ 84,58 Dipicu Kekhawatiran Naiknya Suku Bunga
Harga minyak turun pada Senin (10/4) atau Selasa (11/4) waktu Indonesia, setelah naik selama tiga minggu berturut-turut. Tekanan terhadap harga berasal dari kekhawatiran naiknya suku bunga yang dapat mengekang permintaan, menyeimbangkan prospek pasar yang lebih ketat karena pemotongan produksi dari OPEC+.
Tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari penguatan Dolar AS yang didorong oleh data pekerjaan Amerika yang menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat.
Hal ini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Penguatan dolar membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan dapat membebani permintaan.
Harga minyak jenis Brent turun 96 sen, atau 0,2%, menjadi US$ 84,58 per barel sementara West Texas Intermediate AS juga turun 94, atau 0,1%, menjadi $79,74. Kedua harga minyak acuan global ini turun lebih dari US$ 1 di awal sesi perdagangan.
“Kami melihat perdagangan minggu ini akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi yang ditampilkan oleh IHK dan PPI yang kemungkinan akan menghidupkan kembali momok suku bunga yang lebih tinggi yang dapat memperkuat dolar AS,” kata presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch, seperti dikutip Reuters.
Harga minyak melonjak lebih dari 6% pekan lalu setelah OPEC+, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, mengejutkan pasar dengan putaran baru pengurangan produksi mulai Mei.
Minyak juga mendapat dukungan dari penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih curam dari perkiraan minggu lalu, serta penurunan stok bensin dan sulingan, mengisyaratkan meningkatnya permintaan.
Di pasar keuangan global, laporan inflasi AS yang akan dirilis pada hari Rabu dapat membantu investor mengukur lintasan jangka pendek untuk suku bunga.
Juga akan muncul laporan bulanan dari OPEC pada hari Kamis dan Badan Energi Internasional pada hari Jumat, yang akan memperbarui perkiraan permintaan dan pasokan minyak.
