Laporan Pentagon: AS-Saudi Saling Ancam Soal Produksi dan Harga Minyak

Happy Fajrian
13 Juni 2023, 13:40
harga minyak, produksi minyak, arab saudi, amerika serikat, as, pentagon
Dok. Chevron
Ilustrasi kilang minyak.

Sebuah laporan Departemen Keamanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon, yang bocor ke publik menunjukkan bahwa Amerika dan Arab Saudi saling ancam terkait kebijakan produksi kartel minyak dunia dan sekutunya, OPEC+, yang berdampak pada harga minyak.

Mengutip Washington Post, laporan Pentagon tersebut menunjukkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman Al Saud mengancam Amerika dengan bencana ekonomi atas keputusan produksi minyak kelompok OPEC+ yang termasuk Rusia di dalamnya.

Hubungan antara Biden dan bin Salman telah memburuk sejak sebelum Biden menjabat. Namun dokumen Pentagon yang baru bocor menunjukkan bahwa keputusan Arab Saudi untuk memangkas produksi Oktober lalu membuat hubungan keduanya semakin dingin.

Menyusul keputusan Arab Saudi dan negara anggota OPEC+ lainnya untuk memangkas produksi, Presiden AS Joe Biden telah berjanji bahwa akan ada “konsekuensi”. Pasalnya langkah pemangkasan produksi minyak dapat mengerek harga minyak yang memperburuk inflasi di Amerika yang tengah diperangi pemerintahan Biden.

“Saya sedang dalam proses, ketika DPR dan Senat kembali, mereka (Arab Saudi) harus bertanggung jawab, akan ada beberapa konsekuensi atas apa yang telah mereka lakukan bersama Rusia,” kata Biden Oktober 2022 tak lama setelah Arab Saudi dan OPEC+ mengumumkan pemangkasan produksi.

Menanggapi ancaman Presiden Biden, dokumen tersebut menunjukkan bahwa bin Salman mengancam Amerika dengan "konsekuensi ekonomi yang besar". Menurut dokumen Pentagon, bin Salman juga mengatakan "tidak akan berurusan dengan pemerintah AS lagi".

Calon raja Arab Saudi itu juga menambahkan bahwa akan ada "konsekuensi ekonomi utama bagi Washington". Namun tidak diketahui secara pasti apakah komentar ini dilontarkan langsung kepada pejabat pemerintah AS atau hanya percakapan yang disadap.

Arab Saudi kembali memangkas produksi baru-baru ini minggu lalu, kali ini dengan sukarela memangkas 1 juta barel per hari (bph) dari target produksinya yang sudah dikurangi. Langkah ini disebut untuk menopang harga minyak yang terus merosot serta untuk meningkatkan stabilitas pasar.

Pemangkasan produksi biasanya memicu reaksi kecaman dari Pemerintah AS, yang sudah memiliki masalah dengan Mohammad bin Salman atas dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan pembangkang Saudi Jamal Khashoggi. Tetapi harga minyak gagal naik usai pemotongan, mengurangi kemungkinan tanggapan AS yang berarti.

Harga Minyak AS Merosot di Bawah US$ 70 per Barel

Harga minyak melanjutkan koreksinya di awal pekan ini. Pada Senin (12/6) atau Selasa waktu Indonesia, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate, merosot lebih dari 4% ke bawah level US$ 70 per barel, tepatnya di US$ 67,43. Artinya sepanjang tahun ini WTI telah turun lebih dari 18,76%.

Sementara Brent hari ini diperdagangkan di level US$ 72,27 per barel dan sempat menyentuh level US$ 71,58 per barel pada sehari sebelumnya. Sepanjang tahun ini Brent telah merosot 17,13% dan 27,71% jika dibandingkan posisi setahun sebelumnya atau secara year on year (yoy).

Turunnya harga minyak di tengah rencana Arab Saudi untuk memperdalam pemangkasan produksi menurut analis energi Goldman Sachs Jeff Currie dipengaruhi oleh meningkatnya pasokan dari Rusia, Iran, dan Venezuela, terus meningkatnya kekhawatiran resesi, serta rencana Fed menaikkan suku bunga yang akan diputuskan pekan ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...