Pembiayaan Hilirisasi Batu Bara melalui Danantara Dinilai Berisiko Tinggi
Pemerintah berencana memulai kembali proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di tiga lokasi di Sumatera dan Kalimantan. Proyek ini berpeluang didanai oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara.
Rencana itu menjadi salah satu instruksi Presiden Prabowo Subianto saat menggelar rapat terbatas bersama Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional di Istana Merdeka Jakarta pada Senin malam (3/3).
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan Bisman Bakhtiar mengatakan Danantara memang bisa membiayai proyek DME tetapi sangat berisiko. “Dari aspek investasi dan keuangan ini langkah berani dan berisiko tinggi,” kata Bisman saat dihubungi Katadata.co.id, Selasa (4/3).
Dia menyebut, banyak calon investor asing yang menunjukkan minat terhadap proyek hilirisasi ini, namun akhirnya hengkang. Hal ini disebabkan oleh aspek pendanaan karena proyek DME membutuhkan pembiayaan sangat besar.
“Untuk saat ini jika proyek DME dilakukan 100% biaya negara termasuk jika melalui Danantara kurang feasibel (layak) karena memang kemampuan dana yang terbatas risiko dan masih masih banyak kebutuhan lain yang jauh lebih urgent (mendesak) bagi negara,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah harus mengkaji dan mempertimbangkan ulang terkait dengan urgensi, kemampuan, dan risikonya. Selain itu, faktor pengawasan dan potensi terjadinya penyimpangan juga harus menjadi perhatian.
“Kecuali jika ada pihak luar yang bisa diajak kerja sama untuk berbagi investasi dan risiko, ini akan lebih baik dan feasibel,” ucapnya.
Tujuan Hilirisasi
Kepala Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional Bahlil Lahadalia mengatakan proyek ini bertujuan untuk mengolah batu bara berkalori rendah sehingga bisa mengurangi impor elpiji alias LPG.
"Pemerintah akan melakukan ini agar produknya betul-betul bisa dipasarkan di dalam negeri sebagai substitusi impor," kata Bahlil dalam konferensi pers seusai rapat semalam.
Pendanaan proyek hilirisasi batu bara kali ini akan berasal dari anggaran negara dan perusahaan swasta nasional. Hal ini relatif berbeda dari rencana pengembangan DME sebelumnya yang bergantung pada investor asing.
Dengan skema baru ini, pemerintah ingin memastikan proyek DME tidak lagi bergantung pada keinginan investor asing yang bisa saja mundur di tengah jalan.
Perusahaan pengolahan gas dan kimia asal Amerika Serikat (AS), Air Products and Chemicals Inc., sebelumnya hengkang dari dua proyek hilirisasi batu bara di Indonesia karena diduga tingginya harga batu bara yang membuat proyek tersebut menjadi tidak ekonomis.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer Danantara (CEO) Rosan Roeslani menyampaikan Danantara akan mendukung proyek hilirisasi. "Kami akan melalui proses yang proper, melalui proses due diligence ," ujar Rosan pada kesempatan serupa.
