Kerja Sama dengan Rusia, ESDM Evaluasi Investasi Proyek Kilang Tuban Rp 392 T

Mela Syaharani
24 Juni 2025, 15:55
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (tengah) saat menyampaikan keterangan pers terkait tambang nikel di Raja Ampat di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (5/6/2025).
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (tengah) saat menyampaikan keterangan pers terkait tambang nikel di Raja Ampat di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (5/6/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah sedang membahas kelanjutan proyek Grass Root Refinery atau Kilang Tuban. Hal ini dibahas setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.

“Kemarin kami membahas dengan Rosneft dan Pertamina. Sampai dengan sekarang kami mengevaluasi investasinya yang cukup besar, sekitar US$ 24 miliar (Rp 392 triliun),” kata Bahlil dalam konferensi pers Jakarta Geopolitical Forum IX/2025 (JGF 2025), Selasa (24/6).

Kilang Tuban merupakan proyek kerja sama antara Pertamina dan perusahaan migas asal Rusia, Rosneft. Pada Oktober 2019, keduanya telah menandatangani kontrak desain kilang dengan kontraktor terpilih. 

Proyek ini dikelola oleh Kilang Pertamina Internasional bersama Rosneft melalui perusahaan patungan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), yang didirikan pada November 2017. Dalam skema kepemilikan, Pertamina menguasai 55% saham, sementara Rosneft memiliki 45%.

Mengutip laman Direktorat Jenderal Migas, proyek ini awalnya ditargetkan beroperasi pada 2025. Hingga saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap penyusunan keputusan akhir investasi (FID) yang ditargetkan selesai pada tahun ini.

“Kenapa sekarang proyeknya belum jalan? setelah dihitung kembali antara investasi dan nilai keekonomiannya masih perlu ditinjau kembali. Belum pas, belum cocok,” ujarnya. 

Proyek Kilang Tuban sebelumnya dibahas oleh Presiden Vladimir Putin dalam rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pekan lalu.

Kementerian ESDM sebelumnya telah memastikan bahwa Rusia masih berkomitmen untuk mendanai proyek Kilang Tuban. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, setelah pertemuannya dengan Wakil Menteri asal Rusia.

"Kami sudah pernah bertemu dengan Rusia, mereka masih commit untuk menyediakan pendanaan," ujar Dadan dalam kunjungan kerja di Palembang, Sumatra Selatan, Jumat (21/3). Namun, ia tidak merinci siapa Wakil Menteri Rusia yang ditemuinya.

Keterlambatan FID

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengungkapkan alasan di balik keterlambatan keputusan akhir investasi proyek ini. Corporate Secretary KPI Hermansyah Y. Nasroen, menjelaskan bahwa skala proyek yang besar dan sifatnya yang dimulai dari nol menjadi faktor utama keterlambatan FID. 

"Karena proyek ini besar sekali dan grass root itu dimulai dari nol. Jadi memang proses FID-nya agak lama mungkin ya," ujar Hermansyah di Jakarta, Senin (10/3). 

Meski demikian, ia memastikan bahwa tidak ada kendala signifikan dalam penyusunan FID. KPI tetap menargetkan penyelesaiannya tahun ini. "Memang mungkin perhitungannya, FIC tender-nya yang membuat sedikit terlambat,"ujarnya. 

Setelah FID ditetapkan, KPI akan segera melanjutkan pembangunan kilang, termasuk tahap konstruksi. Namun, tahapan ini masih bergantung pada hasil akhir dari FID. Saat ini, penyusunan FID masih berada di tingkat KPI dan dilakukan secara paralel dengan tender Integrated Project Consultant (IPC).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...