RI dan Bangladesh Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Batu Bara dan Energi Bersih

Mela Syaharani
25 Agustus 2025, 11:27
batu bara
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nym.
Pekerja mengoperasikan alat berat di salah satu perusahaan pertambangan batu bara Desa Peunaga Cut Ujong, Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Minggu (13/7/2025). Pemerintah menetapkan harga batu bara acuan (HBA) periode pertama bulan Juli 2025 sebesar 107,35 dolar AS (Rp1,74 juta) per ton atau naik sebesar 8,74 dolar AS (Rp141,7 ribu) per ton jika dibandingkan dengan HBA periode kedua Juni 2025 sebesar 98,61 dolar AS (Rp1,59 juta) per ton.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia dan Bangladesh melanjutkan kerja sama di bidang energi. Kedua negara telah melaksanakan The First Indonesia-Bangladesh Joint Committee Meeting on Energy, sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Kerja Sama Energi pada 4 September 2023. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pertemuan ini sebagai tonggak penting dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara di sektor energi.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyampaikan bahwa kerja sama Indonesia dengan Bangladesh menjadi penting di tengah kondisi energi global saat ini.

"Indonesia dan Bangladesh tengah menghadapi tantangan ganda, yakni memastikan ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri, sekaligus melakukan transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan," ujar Dadan dalam keterangan resmi, dikutip Senin (25/8).

Ia juga mengatakan Indonesia dan Bangladesh selama ini memiliki hubungan ekonomi yang erat, dengan nilai perdagangan bilateral 2024 mencapai US$ 2,94 miliar atau Rp 47,78 triliun. Dari total tersebut, sektor yang mendominasi adalah ekspor batu bara Indonesia dengan nilai US$ 1,05 miliar atau sekitar 13,2 juta ton. 

Selain batu bara, Indonesia juga mengekspor minyak sawit, arang besi (clinker), dan produk kimia. Sementara Bangladesh memasok tekstil, produk anyaman, dan alas kaki ke Indonesia, menambah keberagaman dan keseimbangan hubungan dagang.

Siap Dukung Kebutuhan Energi Bangladesh

Pemerintah siap mendukung kebutuhan energi Bangladesh, khususnya dalam pasokan batu bara yang stabil dan terjangkau, sekaligus berkomitmen mengembangkan teknologi batu bara bersih dan energi berkelanjutan. Dengan kapasitas pembangkit listrik nasional yang telah mencapai 105 GW hingga pertengahan 2025, di mana 15% di antaranya berbasis energi terbarukan, Indonesia optimistis dapat menjadi mitra strategis bagi Bangladesh.

Indonesia juga membuka peluang kolaborasi di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) energi. Dua politeknik di bawah Kementerian ESDM, yaktu Politeknik Energi dan Mineral Akamigas Cepu serta Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, siap mendukung peningkatan kapasitas tenaga kerja sektor energi di kedua negara.

Dadan mengatakan pertemuan ini tidak hanya memperkuat persahabatan, tetapi juga meletakkan dasar bagi kerja sama jangka panjang di bidang energi kedua negara. 

Indonesia terbuka dengan kesempatan kolaborasi dengan Bangladesh dalam membangun infrastruktur energi, pembangkit listrik baru, memajukan proyek minyak dan gas bumi (migas), serta meningkatkan inisiatif energi terbarukan.

Dadan menyampaikan bahwa melalui sinergi kedua negara, Indonesia dan Bangladesh dapat memastikan ketahanan energi, mendorong keberlanjutan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat di kedua negara. Ia menambahkan, peningkatan ekonomi dan permintaan energi yang pesat di Bangladesh membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan.

Menurutnya, Indonesia dapat mendukung pembangunan Bangladesh sekaligus membuka peluang baru bagi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk berinvestasi dan berkembang.

Secretary of Power Division of Bangladesh Farzana Mamtaz menekankan bahwa pertemuan kedua negara kali ini bertujuan untuk memperdalam kerja sama di subsektor kelistrikan dan energi. Kedua subsektor ini, merupakan bidang fundamental bagi pembangunan kedua negara.

Mamtaz mengatakan hampir seluruh penduduk Bangladesh kini telah memiliki akses listrik. Namun, seiring dengan aspirasinya menjadi negara maju, permintaan energi di negara tersebut terus meningkat sehingga membutuhkan inovasi dalam negeri serta kemitraan internasional yang lebih kuat.

Dalam konteks ini, ia menilai Indonesia merupakan mitra yang kaya akan sumber daya energi, memiliki keahlian teknologi, sekaligus sahabat terpercaya di Asia.

Bangladesh resmi mengadopsi Renewable Energy Policy 2025, yang menargetkan porsi energi terbarukan sebesar 20% pada 2030 dan meningkat menjadi 30% pada 2040. Saat ini, pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dan angin pesisir tengah mengalami pertumbuhan pesat di negara tersebut.

Menurut Mamtaz, pengalaman dan teknologi yang dimiliki Indonesia dapat berperan penting dalam mempercepat pencapaian target-target energi terbarukan Bangladesh.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...