Tiga Penyebab BBM di SPBU Swasta Kosong, Benarkah Karena Persaingan Usaha?

Mela Syaharani
3 September 2025, 15:35
SPBU Shell tidak menjual BBM jenis Super, V-Poower, dan V-Power Nitro+ di Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/9).
Katadata/Mela Syaharani
SPBU Shell tidak menjual BBM jenis Super, V-Poower, dan V-Power Nitro+ di Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/9).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah stasiun bahan bakar umum (SPBU) milik perusahaan swasta seperti BP-AKR dan Shell Indonesia mengalami kekosongan stok atau pasokan bahan bakar minyak (BBM) selama sepekan. Setidaknya ada tiga penyebab kekosongan BBM di SPBU swasta.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan kekosongan stok BBM di SPBU swasta bisa disebabkan oleh persaingan usaha dan iklim investasi di Indonesia. Hal ini ditandai dengan Shell Indonesia yang menjual seluruh asetnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, yang bisa mempertahankan bisnis di hilir migas Indonesia saat ini adalah perusahaan yang juga memiliki bisnis di hulu migas.

“Misalnya ada BP AKR, kan mereka punya bisnis hulu di Papua dan beberapa tempat sehingga mereka bisa sinergikan antara hulu dan hilir. Tapi kalau yang berdiri sendiri dan tidak punya aset lain di sini, dan tidak terlalu menguntungkan otomatis mereka pergi,” katanya.

 Namun demikian, Komaidi mengatakan kelangkaan BBM di SPBU swasta saat ini kemungkinan lebih banyak disebabkan oleh dampak kebijakan impor minyak dari AS. Seperti diketahui, Indonesia sudah berkomitmen untuk membeli migas dari Amerika Serikat sebagai bentuk negosiasi tarif respirokal yang dikenakan Presiden Donald Trump.

“Kalau yang sekarang saya kira dampak dari tarifnya Trump lumayan besar, karena bisa ke mana-mana. Tapi juga tidak menutup kemungkinan bahwa ini masalah persaingan usaha, iklim investasi, yang kemudian kalau mereka melihat tidak cukup menguntungkan, tidak cukup oke marginnya, mereka akan pergi secara bertahap,” ucapnya.

Menurut Komaidi, kebijakan tersebut menggeser sumber impor minyak mentah (crude) yang awalnya berada di Singapura menjadi bergeser ke AS. Meskipun sebagian besra yang ditugaskan adalah Pertamina, namun hal itu juga bisa berdampak ke swasta.

Dia menjelaskan produsen BBMdi Indonesia perlu melakukan penyesuaian tata waktu akibat negosiasi tarif tersebut. Impor minyak mentah dari Singapura hanya membutuhkan satu hari saja. Sementara impor minyak mentah dari Timur Tengah dan Afrika membutuhkan waktu kirim 10-11 hari.

“Tapi kalau impor digeser ke AS dan mengambil langsung dari pelabuhan Texas maka membutuhkan waktu 30-40 hari. Kemungkinan ini yang menyebabkan stok kosong, masih perlu penyesuaian," ujarnya.

Dia menilai kebijakan ini kemungkinan akan memberikan dampak paling tidak di tahap-tahap awal. Namun, penyediaan stok BBM tersebut akan bertemu titik keseimbangannya seiring dengan berjalannya waktu.

Perubahan Izin Impor

Berbeda dengan Komaidi, Pakar Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan kosongnya pasokan BBM di SPBU swasta disebabkan oleh perubahan izin impor yang dikeluarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dia menyebut awalnya izin impor BBM diberikan setiap tahun namun diubah menjadi 6 bulan sekali diajukan.

“Saya kira penyebab utamanya adanya perubahan aturan dari Kementerian ESDM. Nah dalam kondisi semacam itu, ternyata mereka kan tidak punya penyimpanan seperti Pertamina sehingga semua BBMnya diimpor dan impornya tadi dibatasi dari setahun sekali menjadi 6 bulan sekali,” kata Fahmy.

Dia juga membantah adanya faktor persaingan usaha yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Menurutnya, SPBU swasta hanya hadir di kota-kota besar sehingga tidak bisa disebut persaingan dengan Pertamina yang memang memasok ke seluruh wilayah Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...