7 Pekerja Freeport yang Terjebak Longsor Masih Belum Ditemukan

Mela Syaharani
12 September 2025, 16:06
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampikan keterangan kepada media massa tentang Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (1/7/2025). Peraturan tersebut mengatur tentang Kerja Sama
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampikan keterangan kepada media massa tentang Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (1/7/2025). Peraturan tersebut mengatur tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja Untuk Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan 7 pekerja tujuh pekerja tambang bawah Grasberg Block Cave di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah hingga saat ini masih belum ditemukan. Tambang tersebut merupakan salah satu wilayah operasi milik PT Freeport Indonesia (PTFI).

Proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan seluruh pihak, baik dari Kementerian ESDM dan PTFI. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya mengatakan bahwa dalam kurun waktu 30 jam, ditargetkan proses evakuasi 7 pekerja sudah selesai. Namun, hingga saat ini hal tersebut belum membuahkan hasil.

“Saya sudah mengecek, jadi target 30 jam itu untuk mencapai titik awal (keberadaan pekerja),” kata Yuliot saat ditemui di kantornya, Jumat (12/9).

Longsor lumpur bijih basah terjadi di area tambang bawah tanah di kawasan Grasberg Block Cave (GBC) Extraction 28-30 Panel, Tembagapura, Kabupaten Mimika pada Senin, 8 September 2025 malam sekitar pukul 22.00 WIT.

Aliran material basah dalam jumlah besar dari titik pengambilan produksi di salah satu blok produksi menutup akses ke area tertentu di tambang, sehingga membatasi rute evakuasi bagi tujuh pekerja yang terjebak.

Akibat kondisi itu, PTFI menghentikan sementara seluruh operasi tambang bawah tanah untuk memfokuskan pada upaya evakuasi dan pemulihan.

Yuliot mengatakan tim yang ada di lapangan sudah membuat dua terowongan baru untuk mencapai lokasi awal para pekerja, namun saat terowongan sudah berhasil menembus lokasi awal para pekerja tidak ditemukan di sana. Yuliot menyebut hal ini berpotensi dipengaruhi oleh kondisi terowongan yang berliku dan cukup dalam titiknya di bawah bumi.

“Ini yang terjebak belum ditemukan. Tim Kementerian ESDM dan PTFI yang di lapangan (mencari cara) bagaimana (menemukan) karyawan Freeport yang terjebak. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa teratasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan pasca longsoran terjadi pada Senin (8/9) pihak perusahaan masih bisa melakukan komunikasi dengan pekerja yang terjebak menggunakan HT. Yuliot menyebut mereka dalam kondisi selamat.

“Jadi mungkin karena habis baterai, ini komunikasi (dengan pekerja) sudah terputus. Tapi tim di lapangan berusaha melihat kemana arah terowongan, karena kondisi di sana berbeda dengan perkiraan awal, namun ini diusahakan secepatnya (ditemukan),” ucapnya.

Dikutip dari Antara, terdapat dua pekerja asing asal Chile dan Afrika yang ikut terjebak dalam tambang bawah tanah GBC. Nama-nama pekerja PTFI yang terjebak di tambang bawah tanah antara lain: Irwan, Wigih Hartono, Victor Manuel Bastida Ballesteros, Holong Gembira Silaban, Dadang Hermanto, Zaverius Magai, dan Balisang Telile.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyebut jajarannya mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki untuk menyelamatkan tujuh pekerja 

"Fokus kami adalah untuk penyelamatan dan keselamatan tujuh karyawan tersebut dan seluruh karyawan yang ada di area kerja. Kami upayakan yang paling terbaik. Seluruh daya upaya, energi dan sumber daya kami fokuskan untuk penyelamatan ketujuh karyawan tersebut," kata Tony dikutip dari Antara, Jumat (12/9).

Tony menyebut tantangan terberat yang dihadapi untuk mengevakuasi tujuh pekerja yang masih terjebak tersebut yakni material lumpur bijih basah yang masuk ke area tambang bawah tanah GBC sangat banyak.

"Material longsor itu jauh lebih banyak dari yang kami perkirakan sehingga memerlukan penanganan ekstra dan waktu yang lebih lama. Sampai sekarang masih ada pergerakan dari lumpur bijih basa tersebut," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...