Bahlil Resmikan Dua Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro di Indonesia Timur

Mela Syaharani
29 Oktober 2025, 15:32
Bahlil Lahadalia
Katadata/Mela Syaharani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meresmikan operasional dua pembangkit listrik tenaga mini hydro (PLTMH) Di Indonesia Timur. 

Pembangkit tersebut yakni PLTMH Wairara dengan kapasitas 128 kilowatt (kW) dan PLTMH Anggi 150 kW. Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga melakukan peletakan batu pertama untuk groundbreaking PLTMH Anggi Tahap II sebesar 2 x 250 kW di Pegunungan Arfak, Papua Barat. 

“PLTMH Anggi melistriki 1500 rumah tangga dan kami hari ini juga groundbreaking PLTMH Anggi tahap kedua, dengan demikian akan mengalirkan listrik untuk 2700 pelanggan,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM Eniya Listiani Dewi dalam peresmian di pegunungan Arfak, Papua Barat, Rabu (29/10).

Kapasitas ini membuat masyarakat sekitar bisa menikmati listrik selama 24 jam, dari yang sebelumnya hanya 6 jam dengan menggunakan diesel.

Beroperasinya PLTMH ini juga menghemat penggunaan BBM. Sebab sumber listrik yang sebelumnya didapatkan dari diesel kini bisa disediakan dari sumber energi baru dan terbarukan.

“Dapat kami laporkan BBM yang bisa dihemat mencapai Rp 6,7 miliar per tahun,” ujarnya.

Meski baru diresmikan, namun PLTMH Anggi sudah beroperasi pada Maret 2023. Hingga saat ini (2,5 thn), total penghematan biaya penyediaan BBM PLTD mencapai Rp 17 miliar.

PLTMH Anggi saat ini dikelola melalui mekanisme Serah Terima Operasi antara Pemda Pegunungan Arfak dengan PLN UIW Papua dan Papua Barat. Model pengelolaan ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian energi dan pengelolaan keberlanjutan terhadap infrastruktur yang telah dibangun.

Adapun untuk PLTMH Wairara, pembangkit ini sudah melistriki masyarakat sejak November 2022. Pembangkit ini melayani 105 sambungan pelanggan termasuk di dalamnya fasilitas kesehatan (Puskesmas Mahu), fasilitas pendidikan (SD dan SMP Wairara), fasilitas sosial (Gereja), serta gedung-gedung pemerintahan (Kantor Camat, Kantor Desa, dll).

Sebelum ada PLTMH, masyarakat di Wairara hanya mengandalkan genset berbahan bakar solar dengan biaya operasional yang sangat tinggi, sekitar 0,35–0,4 liter solar per kWh.

Melalui operasional PLTMH Wairara, biaya listrik efektif bagi masyarakat turun menjadi sekitar 3–6 sen USD per kWh. Hal ini sekaligus mengurangi konsumsi solar sekitar 62.000 liter per tahun atau senilai Rp 1,24 miliar per tahun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...