ESDM Sebut Dominasi Batu Bara RI di Pasar Asia Hanyalah Semu

Mela Syaharani
5 November 2025, 15:13
Sejumlah kapal tongkang memuat batu bara melakukan lego jangkar di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (18/2/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari 2025 sebesar 21,45 miliar dolar AS atau turun 8,56
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Sejumlah kapal tongkang memuat batu bara melakukan lego jangkar di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (18/2/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari 2025 sebesar 21,45 miliar dolar AS atau turun 8,56 persen dibandingkan Desember 2024 (month to month) yang disebabkan oleh penurunan nilai ekspor nonmigas terutama pada komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta bijih logam terak dan abu.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan Indonesia masih mengekspor produksi batu baranya ke negara Asia. Pasar terbesar saat ini diekspor ke Cina dan India.

Kendati demikian, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Ditjen Minerba ESDM Surya Herjuna menyebut sebetulnya penguasaan Indonesia dalam pasar batu bara Asia saat ini bersifat semu. Sebab jumlah ekspor yang dilakukan ke Cina hanya 3% dari total produksi batu bara yang dihasilkan negeri panda.

“Kalau kita ukur ekspor ke Cina sekarang jumlahnya 120 juta ton, tapi produksi mereka hampir 4 miliar ton. Artinya penguasaan kita di pasar (batu bara) agak semu,” ujar Surya dalam Coalindo Coal Conference 2025, Rabu (5/11).

Selain perbandingan kemampuan produksi, kondisi semu batu bara Indonesia di pasar Asia juga disebabkan oleh kandungan kalorinya (energi). Surya menyebut Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebanyak 93 miliar ton, dengan cadangan sebesar 31 miliar ton. Namun dari jumlah tersebut, 73% merupakan batu bara kalori rendah, 5% kalori tinggi dan sisanya kalori menengah.

Menurutnya dengan komposisi mayoritas batu bara kalori rendah, nilainya tidak terlalu kompetitif. Mengingat sudah banyak perusahaan dunia yang bisa memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi.

“Pemerintah mencoba optimalkan kondisi sumber daya batu bara yang dimiliki, dengan fokus pembangkit listrik saat ini (kebutuhannya) kalori menengah hingga tinggi,” ucapnya.

Jadi pemerintah mencoba juga dengan kondisi sumber daya yang kita miliki, kita optimalkan apalagi sekarang sebagian besar pembakit kita itu masih berfokus pada kalori menengah yang tinggi.

Ekspor Diprediksi Terus Turun

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa memprediksi terjadinya penurunan drastis untuk jumlah ekspor batu bara Indonesia dalam lima tahun ke depan. 

Fabby mengatakan hal ini dipengaruhi tren global saat ini. Negara-negara yang menjadi pasar utama batu bara Indonesia mulai melakukan transisi energi, dengan menggunakan sumber energi terbarukan bagi pembangkit listrik mereka.

“Negara-negara seperti Cina, India, dan yang ada di kawasan Asia Tenggara sudah mulai berpindah,” kata Fabby dalam Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 dengan tema Green for Resilience di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (10/9). 

Pada 2024, Indonesia telah memproduksi 836 juta ton batu bara atau 117% dari target yang ditetapkan sebanyak 710 juta. Dari jumlah produksi tersebut, jumlah batu bara yang diekspor sebanyak 555 juta ton, pemenuhan DMO 233 juta ton, dan stok mencapai 48 juta ton.

Fabby mengatakan, meski penurunan ekspor secara drastis terjadi dalam lima tahun, namun dia memproyeksikan tahun ini jumlah ekspor batu bara juga mulai menyusut. “Saya kira estimasinya kalau sampai akhir tahun ini bisa turun 20-25% dari ekspor (tahun lalu),” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...