Menilik Manuver Shell Kembali Investasi Hulu Migas di RI Sejak Hengkang 2023
Perusahaan migas asal Inggris, Shell plc, berencana kembali berinvestasi di sektor hulu migas RI. Shell telah mengajukan studi bersama (joint study) terkait wilayah kerja (WK) migas dengan perusahaan migas asal Kuwait, Kufpec.
Studi bersama ini dilakukan pada lima WK migas Indonesia baik di daratan (onshore) maupun lepas pantai (offshore).
Berdasarkan keterangan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), untuk wilayah onshore akan dilakukan di area Sulawesi Barat. Sementara itu studi bersama untuk WK yang berada di lepas pantai akan dilakukan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat.
Tahap studi bersama ini merupakan angin segar bagi kelanjutan rencana investasi Shell di hulu migas RI, pasalnya korporasi besar itu sebelumnya telah hengkang dari RI.
Awalnya, Shell sudah masuk ke industri hulu migas Indonesia sejak akhir 1800. Namun, keberadaan investasinya di Indonesia berakhir pada 2023, saat dia memutuskan untuk hengkang dari proyek Abadi Masela yang ditargetkan onstream akhir 2029.
Shell Upstream Overseas Services (I) Limited (SUOS), anak usaha Shell plc, telah menuntaskan penjualan 35% participating interest di Blok Masela kepada PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas Masela Sdn Bhd pada Oktober 2023.
Melihat Potensi WK Migas
Kabar kembalinya Shell ke hulu migas RI sudah mulai berhembus saat acara Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex 2025 yang diselenggarakan Mei lalu. SKK Migas mengatakan ada 25 perusahaan yang berminat untuk melakukan kegiatan eksplorasi di Indonesia.
“Ada perusahaan migas yang besar-besar, ada juga yang sedang. Yang besar ada TotalEnergies, Chevron sudah komitmen untuk datang, Shell juga Alhamdulillah,” kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto saat ditemui di sela-sela acara IPA Convex 2025, ICE BSD, Banten, Selasa (20/5).
Menurut Djoko, hal ini merupakan kondisi yang bagus bagi industri hulu migas RI. Selain eksplorasi, ada sebagian perusahaan yang juga melakukan joint study, baik yang sudah menyelesaikan ataupun tengah menjalankan prosesnya.
Alasan Shell Kembali Minat
Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Eksplorasi dan Peningkatan Produksi Migas, Nanang Abdul Manaf mengatakan kedatangan perusahaan migas untuk kembali berinvestasi di Indonesia sebab ingin memperoleh temuan atau potensi migas berukuran besar (giant discovery).
Dalam beberapa tahun terakhir, industri hulu migas tanah air berhasil menemukan dua penemuan besar gas. Pertama, sumber gas di Geng North sebesar 5,3 triliun kaki kubik (TCF) dan kedua adalah temuan gas di South Andaman mencapai 2 TCF.
Prospek investasi hulu migas RI juga ditunjukkan dengan pengerjaan proyek-proyek migas jumbo yang mulai berjalan. “Itu juga tanda-tanda bahwa Indonesia punya prospek yang sangat bagus untuk bisa menemukan giant discovery,” kata Nanang saat ditemui di sela-sela acara IPA Convex 2025, Banten, Kamis (23/5).
Nanang mengatakan, dengan faktor tersebut area di Indonesia yang memungkinkan bagi mereka menemukan blok besar di wilayah Indonesia Timur. Namun, dia mengakui wilayah ini memiliki risiko yang lebih besar karena keterbatasan data.
“Jadi peluang untuk bisa mendapatkan cadangan besar, biasanya di daerah frontier atau terluar,” ucapnya.
Nanang juga mengatakan, hal ini juga dilakukan untuk beradu portofolio antar perusahaan. Ini karena Shell, Chevron, dan TotalEnergies merupakan entitas perusahaan migas global yang tergolong raksasa dan punya banyak konsesi, mulai dari Afrika, Timur Tengah, Amerika Selatan, hingga Amerika Utara.
“Jadi kalau prospeknya kecil, mereka akan kalah dengan portofolio yang ada di negara lain. Oleh sebab itu mereka saat ini sedang mencari potensi temuan besar,” ujarnya.
Selain itu, kembalinya raksasa migas ke RI juga ditopang oleh kebijakan fiskal. Dia menyontohkan, Indonesia saat ini mulai memberikan kontrak bagi hasil sampai 50% untuk area-area yang berisiko.
“Itu kan artinya kita sudah mulai memberikan karpet merah buat perusahaan-perusahaan internasional untuk datang ke Indonesia,” kata Nanang.
Bisnis Hilir Migas
Tidak hanya berinvestasi di hulu migas, Shell juga melebarkan sayap bisnisnya di hilir migas, salah satunya melalui pengoperasian stasiun bahan bakar umum (SPBU).
Bisnis ini dimulai shell pada akhir 2005. Dilansir dari berbagai sumber, Shell mendirikan SPBU pertama kali di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang.
Berdasarkan data per Januari 2024, Shell memiliki lebih dari 200 SPBU yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Sumatra Utara. Namun sejak tengah tahun lalu, Shell memutuskan menutup seluruh ritel SPBU-nya di Sumatra Utara.
Bisnis SPBU Shell dalam setahun terakhir mengalami beberapa kali gangguan pasokan yang berimbas pada kosongnya stok BBM. Paling parah terjadi sejak Agustus 2025 hingga saat ini, kala perusahaan tak lagi mendapatkan tambahan impor BBM setelah stok seluruh kuota habis.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemerintah telah menetapkan kuota total 487 ribu kl pada 2025. Kuota ini dibagi atas tiga jenis produk yakni minyak bensin RON 92: 329.704 KL (realisasi 99,94%) Minyak Bensin RON 95: 119.601 KL (realisasi 99,66%) Minyak Bensin RON 98: 38.674 KL (realisasi 99,77%).
Padahal prognosa kebutuhan pasokan tambahan hingga akhir 2025, sebagai berikut:
- Minyak Bensin RON 92: 241.257 KL
- Minyak Bensin RON 95: 121.067 KL
- Minyak Bensin RON 98: 23.134 KL
Pasokan BBM di SPBU Shell Indonesia saat ini masih kosong. President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian mengatakan perusahaan saat ini belum ada kesepakatan impor dengan Pertamina Patra Niaga untuk mengatasi kelangkaan pasokan BBM SPBU swasta yang sudah terjadi sejak Agustus 2025.
“Shell Indonesia ingin menginformasikan bahwa saat ini belum mencapai kesepakatan business-to-business (B2B) terkait aspek komersial untuk pasokan base fuel dari Pertamina Patra Niaga,” kata Ingrid dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (13/11).
Dia mengatakan pembahasan secara bisnis dengan Pertamina hingga saat ini masih berlanjut. Di saat yang sama, perusahaan juga berkoordinasi dengan pemerintah terkait dan pemangku kepentingan lainnya.
“Agar produk BBM jenis bensin tersedia kembali di jaringan SPBU Shell, sesuai dengan standar keselamatan operasional, prosedur dan pedoman pengadaan BBM, serta standar bahan bakar berkualitas tinggi Shell secara global,” ujarnya.
