Harga Minyak Masih Turun Meski Ada Gejolak di Venezuela

Mela Syaharani
5 Januari 2026, 09:45
minyak, harga minyak, venezuela
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia turun di awal perdagangan zona Asia pada Senin (5/1). Penurunan ini karena melimpahnya pasokan meskipun ada kekhawatiran gejolak politik di Venezuela dapat mengganggu pengiriman minyak. Venezuela sendiri merupakan salah satu anggota organisasi negara pengekspor minyak dunia (OPEC).

Harga minyak berjangka Brent turun 34 sen menjadi US$ 60,41 per barel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di US$ 56,91 per barel, turun 41 sen.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari Caracas pada Sabtu (3/1). Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan mengambil alih kendali negara penghasil minyak tersebut.

“Pasokan minyak global saat ini melimpah, artinya gangguan lebih lanjut terhadap ekspor Venezuela tidak akan berdampak signifikan pada harga dalam waktu dekat,” kata para analis dikutip dari Reuters, Senin (5/1).

Dua sumber Reuters mengatakan serangan AS untuk menggulingkan Presiden Venezuela tidak menimbulkan kerusakan pada industri produksi dan pengolahan minyak disana. 

Salah satu ekonom di Capital Economics Ltd, Neil Shearing mengatakan gangguan jangka pendek pada produksi minyak Venezuela dapat dengan mudah diimbangi oleh peningkatan produksi di wilayah lain. 

“Kami memperkirakan pertumbuhan pasokan global dalam setahun ke depan akan mendorong harga minyak turun menuju US$ 50 per barel,” kata Neil Shearing dikutip dari Bloomberg, Senin (5/1).

Venezuela memang pernah menjadi kekuatan besar dalam produksi minyak, namun kinerjanya telah anjlok selama dua dekade terakhir. Negara Amerika Latin tersebut kini hanya menyumbang 1% pasokan minyak Global, yang sebagian besarnya diekspor ke Cina.

Pasar minyak dunia saat ini menghadapi kelebihan pasokan dalam jumlah besar karena OPEC dan sekutunya (OPEC+) menambah produksi di tengah permintaan yang lemah.

OPEC+ pada Minggu (3/1) telah mengadakan pertemuan untuk menunda rencana kenaikan pasokan pada kuartal I 2026. Namun, menurut para delegasi, masih terlalu dini untuk merespon situasi yang sedang berkembang.

Tekanan AS baru-baru ini terhadap rezim Maduro, termasuk penyitaan kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Venezuela, memaksa negara tersebut untuk mulai menutup beberapa sumur minyak. 

Presiden Donald Trump mengatakan pada Sabtu (3/1) sanksi terhadap industri Venezuela akan tetap berlaku. Kendati demikian, perusahaan AS akan membantu membangun kembali infrastruktur dan menghidupkan kembali produksi , yang kemungkinan akan menjadi proses yang panjang.

“Untuk saat ini, kelebihan pasokan masih mendominasi pembicaraan dan mengalahkan faktor geopolitik, yang menjaga harga tetap stabil,” kata Kepala Investasi di Karobaar Capital LP, Haris Khurshid.

Pada Minggu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan AS akan menggunakan pengaruhnya atas minyak untuk memaksa perubahan lebih lanjut di negara Amerika Latin tersebut. Sementara itu Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menuntut AS segera membebaskan Maduro, dengan alasan dia adalah presiden yang sah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...