Indonesia Pangkas Kuota Produksi Batu Bara, Asia Terancam Gelap
Perusahaan utilitas di seluruh Asia sedang berusaha keras untuk mengatasi potensi kekurangan pasokan batu bara kritis setelah perusahaan-perusahaan batu bara di Indonesia menghentikan ekspor batu bara spot sebagai protes terhadap usulan pemerintah untuk membatasi produksi. Sejumlah negara Asia yang menjadi pengimpor batu bara Indonesia terancam gelap karena kekurangan pasokan.
Menurut laporan Reuters, seorang pejabat di perusahaan pertambangan batu bara Indonesia mengatakan, ekspor yang terikat kontrak jangka panjang akan tetap dilanjutkan. Namun, pengiriman spot akan dibatasi hingga keputusan akhir mengenai kuota produksi diambil. Pejabat tersebut juga memperingatkan bahkan beberapa kontrak jangka panjang berisiko gagal karena para penambang menghadapi keadaan tak terduga.
Indonesia menyumbang setengah dari total ekspor batu bara termal global pada tahun 2025. Indonesia juga merupakan pemasok batu bara terbesar bagi banyak negara pengimpor batu bara terbesar di dunia, termasuk Cina, India, Vietnam, dan Filipina.
Namun, pelemahan harga batu bara global mendorong pemerintah Indonesia untuk mengusulkan pemotongan produksi dan kuota sebagai upaya untuk menaikkan harga ekspor dan pendapatan pajak.
Perusahaan pertambangan batu bara Indonesia juga mengancam akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan tambang sebagai akibat dari pemotongan produksi yang dipaksakan. Hal ini menempatkan pemerintah di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan sebelum aktivitas pertambangan dan aliran ekspor terhenti.
Pemerintah Indonesia terbukti bersedia mengambil tindakan tegas terhadap sektor pertambangan sebelumnya. Indonesia sempat menghentikan sementara ekspor batu bara pada tahun 2022 akibat kekurangan pasokan batu bara di pembangkit listrik lokal.
Penangguhan tersebut memicu kenaikan tajam harga batu bara global pada saat itu, dan kontrak berjangka acuan batu bara termal Asia yang diperdagangkan di laut telah naik 9% ke level tertinggi dalam lebih dari setahun berkat intervensi terbaru.
Kenaikan harga batu bara di pasar global kemungkinan akan terus berlanjut seiring dengan respons para importir utama terhadap ancaman penurunan pasokan yang tajam dari Indonesia dan upaya mereka untuk memastikan pasokan pengganti dari eksportir dan perusahaan perdagangan lainnya.
Dampak Pemangkasan Kuota Batu Bara Indonesia Meluas
Data dari firma intelijen komoditas Kpler menunjukkan 16 negara berbeda mengimpor 1 juta metrik ton atau lebih batu bara termal Indonesia pada tahun 2025.
Negara-negara tersebut meliputi Brunei hingga Cina, dan mencakup sebagian besar konsumen batu bara terbesar di dunia.
Namun, beberapa negara lebih bergantung pada pasokan batu bara Indonesia dibandingkan negara lain, karena negara-negara kunci seperti Cina dan India sebagian besar mengandalkan tambang dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan batu bara mereka.
Beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan hampir sepenuhnya bergantung pada impor untuk pasokan batu bara mereka, dan mengoperasikan sistem tenaga listrik yang menggunakan batu bara sebagai sumber utama listrik.
Selain itu, penurunan yang berkelanjutan dalam volume pasokan batu bara Indonesia di pasar global akan memiliki dampak yang luas. Perusahaan-perusahaan utilitas Asia sudah berada di bawah tekanan untuk memenuhi puncak permintaan pemanasan regional dan bergantung pada batu bara untuk lebih dari setengah produksi listrik mereka.
Filipina hingga Malaysia Terancam Gelap
Filipina, Bangladesh, Vietnam, dan Malaysia menjadi negara-negara yang paling rentan terhadap gangguan pasokan batu bara dari Indonesia. Data Kpler menunjukkan pembeli batu bara Indonesia yang paling bergantung pada impor pada tahun 2025 adalah Filipina. Negara itu memperoleh 98% dari total impor batu baranya dari Indonesia.
Selain itu, data dari Lembaga riset energi Ember menunjukkan batu bara merupakan sumber listrik utama di Filipina, dan menyumbang sekitar 57% dari produksi listrik tahun lalu.
Bangladesh juga mengimpor lebih dari 90% batu bara dari Indonesia pada 2025. Bangladesh meningkatkan pangsa batu bara dalam bauran pasokan listriknya hingga rekor tertinggi pada tahun lalu.
Malaysia dan Vietnam mengimpor lebih dari setengah pasokan batu bara tahunan mereka dari Indonesia pada tahun 2025. Mereka juga bergantung pada batu bara untuk 40% atau lebih dari pasokan listrik utilitas mereka.
Cina dan India Juga Bakal Terdampak
Dampak dari penghentian ekspor batu bara spot Indonesia yang berkepanjangan akan dirasakan bahkan di pasar yang kurang bergantung pada impor seperti Cina dan India, karena konfigurasi pembangkit listrik pesisir.
Beberapa pembangkit listrik berbahan bakar batu bara besar di Cina dan India terletak dekat dengan pelabuhan impor komoditas utama, sehingga sebagian besar batu bara mereka dipasok dari pemasok internasional daripada pasar domestik.
Jika terjadi kenaikan harga yang berkelanjutan di pasar batu bara internasional, pembangkit listrik tersebut dapat memperoleh lebih banyak batu bara dari pasar domestic. Namun, mereka akan menanggung biaya transportasi yang lebih tinggi karena truk dan sistem kereta api menggantikan pengiriman dengan kapal kargo.
Artinya, meskipun utilitas di Filipina dan Bangladesh mungkin menjadi yang pertama merespons penghentian ekspor Indonesia, semua pembangkit listrik batu bara di Asia kemungkinan akan terdampak karena pasar memperhitungkan pengurangan volume dari pemasok terbesar di dunia.

