Pertamina Mulai Pilot Sertifikasi Terminal Hijau di Cilegon, Rampung 2028
PT Pertamina (Persero) memulai percobaan skala kecil atau pilot project terminal hijau di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten pada Rabu (11/2). Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menargetkan proyek sertifikasi label terminal hijau atau Green Terminal Label Certification (GTLC) ini bisa rampung pada 2028.
“Kami mulai pada kuartal I 2026 dan targetnya selesai sampai 2028,” kata Agung dalam peresmian di Cilegon, Rabu (11/2).
Direktur Operasi Pertamina Energy Terminal Rangga Raditya mengatakan pilot project ini secara umum mengubah arah standarisasi yang ada di Terminal Tanjung Sekong. Dalam proyek ini Pertamina menyiapkan standar baru yang lebih hijau atau berkelanjutan.
Rangga mencontohkan, terminal ini menggunakan lampu yang lebih hemat energi dan hemat dalam menggunakan air. Prosedur baru ini juga mencakup perubahan penggunaan sumber energi.
“Kami akan bertahap mengganti sistem (energi) yang menggunakan energi fosil dengan sistem baru hidrogen hijau yang dipasok dari Pertamina Geothermal Energy (PGE),” ujar Rangga.
Proyek terminal hijau ini juga memuat pengembangan ekosistem Green Hydrogen. Hal ini dilakukan melalui pemenuhan pasokan dari PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) memproduksi hidrogen hijau berbasis panas bumi dari Ulubelu. Hidrogen kemudian didistribusikan oleh PT Elnusa Petrofin dan dimanfaatkan oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET) sebagai sumber listrik rendah karbon di Tanjung Sekong. Skema ini ditargetkan mampu memenuhi hingga 25% kebutuhan listrik operasional terminal, sekaligus menurunkan emisi Scope 2 secara signifikan.
Dengan adanya proyek ini, terminal yang berada di ujung barat Pulau Jawa ini memang menjadi pengguna akhir atau end user dari hasil produksi energi hijau berupa hidrogen PGE di Lampung. Pemasokan hidrogen hijau saat ini masih dalam pembahasan, menunggu perbandingan hitungan tarif per kwh dari energi fosil ke hidrogen.
“Kurang lebihnya nanti kami mengkomparasi dengan biaya eksisting (fosil) dengan biaya baru,” ucapnya.
Kuartal II 2026, Pertamina akan Pilih Mitra GTLC
Rangga menyebut setelah peresmian pilot project terlaksana, pada kuartal II 2026 Pertamina akan melakukan pemilihan mitra untuk GTLC. Setelah terpilih, nantinya Pertamina akan melakukan self-assessment berupa kunjungan langsung ke masing-masing terminal.
Hal ini diperlukan untuk melihat implementasi dan tingkat pemenuhan standar GTLC di setiap wilayah operasi Pertamina Energy Terminal. Di kuartal berikutnya, mereka juga akan melaksanakan benchmarking hasil dari pemenuhan standar tersebut. Hal ini dilakukan dengan beberapa pemegang sertifikasi GTLC yang direkomendasikan.
Tujuannya, untuk lebih memperkaya referensi dan memastikan terhadap standar internasional. Selanjutnya pada kuartal IV 2026 kami akan menyusun satu peta jalan lanjutan untuk pemenuhan gap berdasarkan hasil penelitian GTLC.
Pertamina mengatakan model Green Terminal di Tanjung Sekong akan menjadi referensi pengembangan terminal energi lainnya dalam jaringan Pertamina.
