Portofolio Energi Bersih, Nilai Tambah Pertamina Dalam Penerapan Praktik ESG
Ahli Strategi Transisi Energi, Fabby Tumiwa menilai keberadaan unit usaha energi terbarukan menjadi pembeda utama PT Pertamina (Persero) dibandingkan perusahaan migas global lainnya.
Menurutnya, tidak banyak perusahaan migas terintegrasi yang telah memiliki unit usaha khusus di sektor energi bersih sebagaimana yang dimiliki Pertamina saat ini.
Fabby yang juga merupakan CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), menuturkan, keberadaan portofolio energi terbarukan menjadi faktor penting dalam perbaikan skor ESG risk Pertamina.
“Pertamina memiliki unit usaha di energi terbarukan seperti Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Pertamina Geothermal Energy (PGE). Hal ini menjadi nilai tambah dibanding perusahaan migas global yang mungkin belum memiliki portofolio serupa,” katanya kepada Katadata, Rabu (21/1).
Pandangan tersebut ia sampaikan seiring capaian Pertamina yang kembali menempati peringkat pertama dunia dalam ESG Risk Rating untuk sub-industri integrated oil and gas versi lembaga pemeringkat global Sustainalytics. Dalam penilaian per 31 Desember 2025, skor ESG risk Pertamina mengalami perbaikan dari 26,9 menjadi 23,1.
Fabby menilai capaian tersebut patut diapresiasi karena mencerminkan pengelolaan risiko ESG Pertamina yang semakin baik. Ia menekankan bahwa penilaian Sustainalytics berfokus pada risiko, bukan pada dampak lingkungan secara langsung.
“Semakin baik perusahaan mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola, maka skornya semakin rendah,” ujar Fabby.
Dalam kerangka penilaian Sustainalytics ESG Risk Rating, skor ESG digunakan untuk mengukur besarnya risiko lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance) yang belum terkelola dan berpotensi berpengaruh terhadap nilai ekonomi jangka panjang perusahaan.
Sustainalytics menilai dua dimensi utama, yakni paparan risiko ESG (exposure) yang melekat pada model bisnis dan industri perusahaan, serta kemampuan perusahaan dalam mengelola dan memitigasi risiko tersebut (management).
Hasil penilaian disajikan dalam skor yang diklasifikasikan ke dalam lima kategori, mulai dari negligible risk, low risk, medium risk, high risk, hingga severe risk. Semakin rendah skor ESG Risk Rating, semakin kecil risiko ESG yang dinilai belum terkelola.
Dengan skor 23,1, Pertamina berada pada kategori medium risk, sementara mayoritas perusahaan dalam sub-industri yang sama berada dalam kategori high risk dan severe risk.
Tantangan Penerapan ESG Sektor Migas
Karena penilaian ini bersifat global dan berbasis sektor, Fabby mengatakan, kinerja ESG Pertamina dibandingkan langsung dengan perusahaan-perusahaan migas dunia dalam kategori industri yang sama. Dari perspektif tersebut, pengelolaan risiko ESG Pertamina dinilai lebih baik dibanding banyak perusahaan migas global lainnya.
Fabby mengingatkan bahwa ESG Risk Rating bukan ukuran tunggal keberlanjutan. Menurutnya, skor ESG secara umum tidak sepenuhnya mencerminkan dampak lingkungan aktual dari bisnis migas yang masih memiliki intensitas emisi tinggi.
Ke depan, Fabby menilai terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi agar kinerja ESG Pertamina tetap konsisten dan sejalan dengan agenda transisi energi nasional. Pertama, perusahaan perlu terus menurunkan risiko ESG melalui penguatan tata kelola dan mitigasi risiko.
Kedua, pengelolaan dampak lingkungan dari core business migas senantiasa perlu ditingkatkan. Ia menilai kontribusi energi terbarukan terhadap total pendapatan Pertamina saat ini masih belum terlalu besar, sementara bisnis migas masih mendominasi portofolio dan menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan.
Ketiga, dalam transformasi menjadi perusahaan energi rendah karbon, Pertamina dinilai perlu lebih agresif memperbesar porsi bisnis non-migas. Menurut Fabby, peningkatan kontribusi energi terbarukan terhadap pendapatan perlu menjadi target jangka menengah agar sejalan dengan arah transisi energi.
Adapun untuk menarik investasi dan kerja sama internasional, Fabby menilai akses terhadap teknologi menjadi faktor kunci. Ia menyoroti potensi besar panas bumi Indonesia, termasuk peluang pengembangan enhanced geothermal system (EGS) yang dinilai belum banyak dimanfaatkan.
“Maka dari itu, penguasaan teknologi panas bumi lanjutan dapat menjadi peluang strategis bagi Pertamina untuk memperkuat posisi di sektor energi bersih sekaligus menjadi pembeda di tingkat global,” ujar Fabby.
Apresiasi Global Terhadap Kinerja ESG Pertamina
Tidak hanya Sustainalytics, penguatan kinerja ESG Pertamina juga tercermin dari lembaga pemeringkat global lainnya. Berdasarkan MSCI ESG Rating per 31 Desember 2025, Pertamina meraih rating BBB, meningkat dari rating BB yang diperoleh pada tahun sebelumnya.
Peringkat BBB menandakan bahwa Pertamina berada pada kategori perusahaan dengan pengelolaan risiko ESG yang memadai dan relatif lebih baik dibanding perusahaan di sektor yang sama. Hal ini sekaligus mencerminkan perbaikan kebijakan, tata kelola, dan manajemen keberlanjutan.
Selain itu, lembaga Carbon Disclosure Project (CDP) memberikan penilaian positif terhadap aspek lingkungan Pertamina. Pada 2025, peringkat Water Security meningkat menjadi A- dari sebelumnya B, menempatkan Pertamina pada kategori Leadership. Kategori ini diberikan kepada perusahaan yang dinilai telah menerapkan praktik baik dalam pengelolaan risiko air, mulai dari strategi mitigasi, tata kelola, hingga pelaporan yang komprehensif dan transparan.
Sedangkan skor untuk aspek Climate Change bertahan pada skor B yang masuk dalam kategori Management Level. Kategori ini menunjukkan bahwa perusahaan telah mengidentifikasi dampak dan risiko perubahan iklim serta mulai mengintegrasikan pengelolaannya ke dalam kebijakan dan operasional meski masih membutuhkan peningkatan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron dalam keterangan resminya menyatakan, capaian ini mencerminkan komitmen perseroan dalam menjalankan praktik bisnis berkelanjutan.
Menurutnya, peningkatan skor ESG merupakan hasil dari integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, serta konsistensi pelaporan kinerja ESG sesuai standar global.
“ESG bukan sekadar kepatuhan, tetapi menjadi strategi inti Pertamina dalam memastikan keberlanjutan bisnis dan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan di masa depan,” ujar Baron, Rabu, (7/1).
Penerapan ESG Perusahaan Bermanfaat untuk Masyarakat
Penerapan prinsip ESG perusahaan dinilai membawa dampak langsung bagi masyarakat dan komunitas. Melansir laman Sparse FEB UGM dan SW Indonesia, praktik ESG mendorong perusahaan untuk lebih bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan, mulai dari pengurangan polusi, perlindungan ekosistem, hingga upaya mitigasi perubahan iklim yang berpengaruh pada kesehatan dan kualitas hidup publik.
Dampaknya, masyarakat di sekitar wilayah operasional berpotensi mendapatkan lingkungan yang lebih sehat dan risiko sosial yang lebih terkendali.
Dari sisi sosial, ESG juga berperan dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan komunitas, peningkatan standar keselamatan kerja, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Sementara itu, sebagaimana diulas dalam laman, pelaporan ESG juga memberi manfaat bagi masyarakat lewat transparansi kinerja non-keuangan perusahaan, sehingga publik dapat menilai sejauh mana komitmen perusahaan terhadap isu sosial dan lingkungan.
Transparansi ini pada akhirnya mendorong akuntabilitas dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan.
