Pemerintah Waspada Lonjakan Harga Minyak, akan Andalkan Biodiesel
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) masih memonitor dampak perang Iran-Israel-Amerika Serikat (AS) terhadap harga minyak. Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan langkah ini perlu dilakukan sebab kondisi dunia saat ini masih tidak menentu.
Menurutnya, pemerintah masih harus memantau eskalasi perang dalam beberapa minggu, terutama pekan depan.
“Kalau perang bisa selesai cepat harusnya dampak ke sektor energi akan jadi terbatas. Tapi harga minyak saat ini sudah naik dari US$ 60 per barel menjadi US$ 78 per barel,” kata Seto saat ditemui di Jakarta, Senin (2/3).
Dia mengatakan kenaikan tersebut tergolong cukup besar, namun lonjakannya akan berhenti jika perang dapat selesai lebih cepat. Apabila perang berlangsung lama dan berlarut-larut maka lonjakan harga komoditas energi akan lebih tinggi.
Menurutnya kondisi ini akan dialami oleh seluruh negara, apalagi ke negara yang menjadi importir komoditas energi seperti minyak mentah. Kendati demikian dia menyebut lonjakan harga ini sudah diantisipasi oleh Indonesia.
“Bapak Presiden dari awal sudah mengurangi dependensi terhadap impor, salah satunya melalui kebijakan biodiesel. Kami coba kurangi dependensi terhadap (impor) minyak,” ujarnya.
Meski berdampak besar bagi komoditas minyak, namun menurut Seto perang Iran-AS ini tidak berdampak banyak bagi komoditas energi lainnya seperti gas alam cair (LNG) ataupun mineral dan batu bara.
“Harusnya minerba tidak terdampak ya,” ucapnya.
Diprediksi Naik US$ 100 per barel
Banyak analis memprediksi kenaikan besar-besaran harga minyak dunia, bahkan bisa menembus US$ 100 per barel. Meskipun Iran hanya bertanggung jawab atas 3-4% produksi minyak global, kedekatannya dengan Selat Hormuz, yang dianggap sebagai titik krusial terpenting dalam rantai pasokan minyak dunia, telah mendorong analis minyak untuk menaikkan proyeksi harga minyak di masa depan.
Gangguan yang berkepanjangan terhadap lalu lintas di selat tersebut, di mana seperlima produksi minyak dunia diangkut, dapat menyebabkan harga minyak melampaui US$ 100 per barel. Ini prospek yang akan merugikan ekonomi global dan mendorong kenaikan harga yang sudah sulit dikendalikan.
Kelompok negara produsen minyak OPEC+ sepakat untuk meningkatkan produksi mulai April, dalam upaya menenangkan pasar.
“Jika konflik berlarut-larut, khususnya, jika hal itu mempengaruhi pasokan minyak aktual akibat gangguan pada pasokan Iran atau upaya Iran untuk memblokir Selat Hormuz, hal itu dapat menyebabkan harga minyak melonjak, mungkin hingga sekitar US$ 100 per barel,” kata William Jackson, ekonom pasar negara berkembang utama di Capital Economics, dalam sebuah catatan kepada klien, seperti dikutip DW.com.
