Aramco Tutup Kilang Minyak Terbesar di Arab Saudi Imbas Perang Iran-AS

Mela Syaharani
2 Maret 2026, 19:22
Asap terlihat saat terjadi kebakaran di pabrik Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, Sabtu (14/9/2019).
ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer
Asap terlihat saat terjadi kebakaran di pabrik Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, Sabtu (14/9/2019).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Raksasa minyak Arab yakni Saudi Aramco menutup operasional kilang minyak terbesar mereka bernama Ras Tanura pada Senin (2/3). Kilang berkapasitas 550 ribu barel per hari (bph) ini ditutup setelah terkena serangan drone dalam konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

“Beberapa unit kilang ditutup sebagai langkah pencegahan, namun pasokan minyak dan produk turunannya ke pasar lokal tidak terganggu,” kata kantor berita negara Saudi SPA, dikutip dari Reuters, Senin (2/3).

Menurut laporan Reuters, ada dua drone yang ditangkap di area kilang tersebut dengan puing-puing yang menyebabkan kebakaran di titik-titik terbatas. Sejauh ini dilaporkan tidak ada korban luka akibat serangan tersebut.

Ras Tanura terletak di pesisir Teluk Arab dan berfungsi sebagai terminal ekspor untuk minyak mentah Arab Saudi. “Situasi di kilang minyak Ras Tanura berada di bawah kendali,” kata sebuah sumber.

Kendati demikian, pasar tetap khawatir sebab tutupnya operasional kilang terjadi berbarengan dengan berhentinya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak utama dunia. Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Setidaknya seperlima konsumsi minyak global melewati jalur tersebut.

“Serangan terhadap kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi menandai eskalasi signifikan, dengan infrastruktur energi Teluk kini menjadi sasaran utama Iran,” kata analis utama Timur Tengah di firma intelijen risiko Verisk Maplecroft Torbjorn Soltvedt.

Menurutnya serangan tersebut kemungkinan bisa memicu Arab Saudi dan negara di kawasan The Gulf Cooperation Council (GCC) yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, and the United Arab Emirates untuk bergabung ke operasi militer AS dan Israel melawan Iran.

Penyerangan kilang raksasa ini bukan kali pertama. Fasilitas energi Arab Saudi yang sangat dijaga ketat telah menjadi sasaran pada September 2019 ketika serangan drone dan rudal terhadap pabrik Abqaiq dan Khurais menghentikan lebih dari setengah produksi minyak mentah kerajaan.

Kilang yang berada di pinggir laut ini juga tercatat pernah diserang oleh Houthi yang berafiliasi dengan Iran pada 2021.

Tak hanya kilang

Tak hanya kilang, ketegangan ketiga negara tersebut pada akhirnya memaksa negara-negara menutup fasilitas migas di seluruh Timur Tengah.

Pada hari ketiga konflik tersebut juga telah memaksa penangguhan kegiatan produksi minyak di Kurdistan Irak, dan beberapa ladang gas Israel. Kondisi ini menjadi hambatan ekspor komoditas energi ke Mesir.

Irak telah menghentikan produksi lapangan minyak mereka di Kurdistan yang mengekspor 200 ribu bph minyak melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan di Turki. Selain itu perusahaan Dana Gas dan HKN Energy juga telah menghentikan produksi di lapangan migas mereka sebagai tindakan pencegahan, tanpa laporan kerusakan.

Sementara itu di lepas pantai Israel, lapangan gas Leviathan yang dioperasikan oleh Chevron ditutup pada Sabtu lalu. Hal serupa juga dilakukan oleh Energean yang menghentikan operasional lapangan gas mereka.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...