WK Duyung Masuki Tahap Keputusan Akhir Investasi, Target Onstream Akhir 2027

Mela Syaharani
3 Maret 2026, 14:13
SKK Migas, WK Duyung, Hashim
Dok. SKK Migas
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan dimulainya tahap implementasi FID WK Duyung merupakan langkah strategis dalam menjaga kesinambungan pasokan gas nasional.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Conrad Asia Energy memulai tahap keputusan akhir investasi atau final investment decision (FID) pengembangan Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja atau WK Duyung, lepas pantai Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.

WK Duyung dioperasikan oleh West Natuna Exploration Limited (WNEL) dan PT Nations Natuna Barat, entitas dibawah Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo. Perusahaan ini juga akan menjadi pemegang mayoritas hak partisipasi di Blok Duyung

PT Nations Natuna Barat tersebut berperan untuk memperkuat struktur pembiayaan dan tata kelola proyek guna memastikan kelangsungan pengembangan Lapangan Gas Mako hingga fase produksi pertama.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan dimulainya tahap implementasi FID merupakan langkah strategis dalam menjaga kesinambungan pasokan gas nasional. 

“Keputusan investasi ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dan KKKS untuk mempercepat pengembangan lapangan gas potensial. Lapangan Gas Mako diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi gas nasional serta mendukung kebutuhan energi dalam negeri,” kata Djoko dalam siaran pers, dikutip Selasa (3/3)..

Proyek Mako memasuki rangkaian fase utama mulai dari Pre FID pada 2025 hingga mencapai First Gas atau produksi gas pertama (onstream) pada kuartal IV atau November 2027. 

Kegiatan di WK Duyung mencakup engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, instalasi offshore, hingga commissioning dan start up. Proyek ini ditargetkan dapat beroperasi sesuai jadwal untuk mendukung kebutuhan energi nasional.

Sementara itu, CEO Arsari Group, Hashim S. Djojohadikusumo mengatakan keterlibatan pihaknya dalam pengembangan Lapangan Gas Mako merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mendukung ketahanan energi nasional.

“Dengan pengalaman panjang dan teruji di sektor migas serta dukungan pembiayaan yang solid, kami optimistis proyek ini dapat dijalankan secara profesional, tepat waktu, dan memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara serta penguatan ketahanan energi Indonesia,” ujar Hashim.

PLN EPI Jadi Offtaker Gas dari WK Duyung

Sebagai bagian dari upaya memastikan kepastian komersialisasi gas, WNEL telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (Gas Sales Agreement/GSA) dengan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sebagai offtaker

Penandatanganan GSA tersebut menjadi landasan untuk mendukung kelayakan proyek sekaligus menjamin penyerapan produksi gas Lapangan Mako untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional.

Arsari Group melalui anak usahanya PT Nations Natuna Barat (Nations), Arsari tengah merampungkan akuisisi 75% hak partisipasi  atau participating interest (PI) di WK Duyung, Cekungan West Natuna, Kepulauan Riau.

Blok migas tersebut mengelola lapangan gas Mako, yang saat ini dikembangkan oleh perusahaan migas asal Australia, Conrad Asia Energy Ltd dalam skema Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Duyung. Adapun aksi korporasi itu ditargetkan rampung sebelum tanggal batas akhir pada kuartal ketiga 2026.

Berdasarkan laporan Conrad Asia Energy, Conrad bersama anak usahanya WNEL, menandatangani perjanjian dengan PT Nations Natuna Barat (Nations) pada November 2025 lalu. Selain mengambil saham mayoritas, Nations juga akan menyediakan pendanaan untuk 100% biaya pengembangan Lapangan Gas Mako serta modal kerja. 

Dalam skemanya Nations membiayai porsi 75% biaya PSC dan sekaligus menanggung bagian WNEL hingga fase pertama pengembangan Mako. Adapun Arsari Group bakal membayar ke WNEL sebesar US$ 16 juta atau sekitar Rp 268,88 miliar (kurs: Rp 16.805 per dolar AS) untuk 75% PI.

Pembayaran itu bakal dibayar dalam tiga tahap, pertama senilai US$ 5 juta atau Rp 84,02 miliar pada kuartal pertama 2026 setelah syarat pendahuluan terpenuhi. Kedua sebanyak US$ 4 juta atau Rp 67,22 miliar pada kuartal ketiga 2026 setelah transaksi tuntas. Ketiga US$ 7 juta atau senilai Rp 117,63 miliar pada saat produksi komersial pertama pada kuartal keempat 2027.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...