PLN: Stok Pembangkit Listrik Aman hingga Agustus, Pasokan 84 Juta Ton Batu Bara
PT PLN (Persero) menyebut pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik dalam kondisi aman dan tidak ada potensi blackout (padam). Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo mengatakan hal ini disebabkan karena PLN dan pembangkit swasta (IPP) telah mendapatkan kepastian pasokan batu bara.
“Total seluruh yang dipasok sekitar 84 juta metrik ton. Artinya cukup sampai akhir Agustus nanti,” kata Rizal saat ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa (3/3).
Dia menyampaikan pasokan tersebut didapatkan dari 8 perusahaan batu bara yang tidka terkena pemangkasan RKAB. Dalam hal ini BUMN dan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi 1.
Berikut daftar perusahaan batu bara yang menjadi pemasok PLN
- Adaro Indonesia,
- PT Arutmin Indonesia,
- PT Berau Coal,
- PT Kaltim Prima Coal
- Kideco Jaya Agung,
- PT Multi Harapan Utama,
- Indominco Harapan Mandiri,
- PT Bukit Asam
Menurut Rizal dengan adanya kepastian pasokan ini akan memperbaiki jumlah hari operasi (HOP) pembangkit-pembangkit listrik.
“Kami berharap sebelum lebaran seluruh pasokan batu bara sudah sampai ke pembangkit listrik yang memerlukan, sehingga ancaman defisit ke depan bisa diatasi,” ujarnya.
Rizal mengatakan secara keseluruhan, jumlah DMO batu bara yang dialokasikan untuk PLN di sepanjang 2026 sebanyak 124 juta ton. Sisa 40 juta ton yang belum mendapat kepastian akan dibahas kembali oleh pemerintah.
Dia menyebut masalah pasokan batu bara ke pembangkit selalu terjadi di awal tahun. Hal ini disebabkan oleh uji coba aturan yang ditetapkan pemerintah. Selain itu kendala pasokan juga disebabkan oleh faktor cuaca yang kurang baik.
Stok Batu Bara Tersisa 10 Hari
Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) sebelumnya menyebutkan sebagian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia mengalami kekurangan pasokan batu bara. Kondisi ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang memangkas kuota produksi batu bara tahun ini menjadi 600 juta ton.
“Benar, sebagian pembangkit stok batu baranya sudah kurang dari 10 hari, yang memiliki stok 25 hari operasi (HOP) hanya beberapa pembangkit saja,” kata Dewan Pengawas APLSI, Joseph Pangalila, saat dihubungi Katadata.co.id, Kamis (26/2).
Tahun ini, Kementerian ESDM memangkas jumlah rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara, jumlahnya menjadi sekitar 600 juta ton per tahun. Angka tersebut menunjukkan penurunan 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi tahun lalu yang mencapai 790 juta ton.
Joseph tidak merinci pembangkit mana saja yang masih memiliki banyak stok, tapi yang jelas kondisi pasokan batu bara ini terbagi atas tiga kelompok. Pembangkit dengan stok batu bara 25 HOP, pembangkit dengan pasokan belasan hari operasi, dan sebagian lainnya di bawah 10 hari operasi.
Menurutnya, standar operasional PLTU yang aman dan andal seharusnya memiliki stok batu bara 25 HOP. Joseph mengatakan stok batu bara untuk pembangkit sebetulnya sudah menurun sejak tahun lalu. Namun, pemangkasan kuota produksi batu bara membuat kondisi itu semakin parah.
Kendati demikian, Joseph menyebut stok batu bara bagi PLTU belum habis hingga Idulfitri mendatang. “Tidak, tapi keandalan suplai batu bara rendah. Jika ada pembangkit yang mendadak rusak, mati, atau cuaca buruk beberapa hari maka suplainya terganggu dan pasokan listrik berkurang,” ujarnya.
