Harga Minyak Brent Naik 15% dalam Sepekan, Terdorong Perang Iran-AS
Minyak acuan dunia mengalami kenaikan harga mingguan terbesar sejak 2022. Kondisi ini terjadi karena ada perang Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran yang memicu gelombang gangguan di pasar energi global yang dirasakan oleh produsen, importir, hingga industri logistik.
Harga minyak Brent naik 15% pekan ini. Pada Jumat (27/1) harga Brent masih berada di bawah US$ 71 per barel. Hari ini (6/3), harga Brent menjadi US$ 83,33 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate US$ 78,61 hari ini. Minyak acuan AS ini juga mengalami kenaikan harga 17% minggu ini.
Meski naik belasan persen, Bloomberg mencatat harga Brent sedikit turun di bawah US$ 84 per barel usai Presiden AS Donald Trump memberi sinyal pengurangan tekanan harga. Departemen Keuangan AS juga mengeluarkan dispensasi sementara agar India bisa membeli minyak mentah dari Rusia.
“Langkah ini hanya mengizinkan transaksi yang melibatkan minyak yang sudah tertahan di laut,” kata Menteri Keuangan Scott Bessent dikutip dari Bloomberg, Jumat (6/3).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya tidak meminta gencatan senjata, tidak berniat untuk bernegosiasi, dan siap menghadapi kemungkinan invasi darat AS. Israel juga terus melakukan serangan udara terhadap target di Tehran.
Di saat yang bersamaan, Trump mengatakan dia seharusnya terlibat dalam pemilihan pimpinan Iran yang menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang dibunuh dalam perang tersebut.
Guncangan Pasar Minyak Global
Pasar minyak terguncang oleh konflik yang melibatkan belasan negara sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2). Seiring meningkatnya ketegangan, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz nyaris terhenti.
Kondisi ini menghambat pasokan minyak ke pasar global dan memaksa produsen untuk mulai mengurangi produksi. Tak hanya itu, pabrik pengolahan minyak dan kapal tanker juga terkena dampaknya.
Goldman Sachs Group Inc. memperingatkan penutupan yang berkepanjangan terhadap jalur air vital yang biasanya mengangkut sekitar seperlima dari aliran minyak global, dapat mendorong harga naik jauh lebih tinggi.
“Misalkan aliran minyak melalui selat tersebut tetap sangat rendah selama lima minggu lagi, ada kemungkinan harga Brent akan melampaui ambang batas US$ 100 per barel,” kata co-head riset komoditas global di bank Wall Street Samantha Dart.
Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk menangani lonjakan harga minyak dan bensin. Opsi tersebut mencakup tindakan yang akan memberi dampak jangka pendek serta langkah-langkah jangka panjang yang lebih kompleks.
Keputusan yang mungkin diambil termasuk pelepasan cadangan minyak darurat negara, yang dilakukan melalui koordinasi dengan negara lain untuk memaksimalkan dampaknya.
Kendati demikian sejauh ini pejabat pemerintah belum mengambil langkah untuk menggunakan cadangan minyak strategis yang disimpan di gua-gua bawah tanah yang luas.
Kondisi Asia
Di Asia, konflik ini juga menimbulkan tanda-tanda ketegangan ekonomi yang meningkat. Cina telah memerintahkan perusahaan pengolahan minyak besar untuk menghentikan ekspor diesel dan bensin. Hal ini mencerminkan upaya untuk memprioritaskan kebutuhan domestik.
Sementara itu, perusahaan pengolahan minyak Jepang meminta pemerintah mereka untuk melepaskan minyak dari cadangan strategis.
Tak hanya itu, Arab Saudi juga menaikkan harga minyak mentah utamanya untuk pembeli di Asia ke angka terbesar sejak Agustus 2022. Riyadh juga mengalihkan jutaan barel minyak mereka ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz.
Dampak konflik juga dirasakan Eropa. Harga gasoil rendah sulfur naik 41% selama pekan ini. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak 2022. Hal ini juga terjadi di AS, menurut Asosiasi Otomotif Amerika harga rata-rata bensin eceran naik 9%.
