Pemerintah Kaji Opsi Tambah Subsidi Imbas Harga Minyak Naik Akibat Perang Iran
Pemerintah membuka kemungkinan menambah anggaran subsidi energi untuk menjaga stabilitas harga jika volatilitas harga minyak dunia terus berlanjut ke depannya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggatakan lonjakan harga minyak dunia akibat Perang di Iran berpotensi menekan anggaran negara.
“Kalau terus terjadi pasti dampaknya di anggaran. Pemerintah akan menambah anggaran untuk subsidi, Itu pasti dampaknya ke sana,” kata Bahlil di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (10/3).
Kendati demikian, pemerintah saat ini masih berupaya melakukan mitigasi terhadap dampak tersebut. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mempercepat diversifikasi sumber energi agar ketergantungan terhadap energi fosil dapat berkurang.
“Kita harus juga mencari sumber-sumber energi lain selain energi fosil, termasuk energi nabati,” ujar Bahlil.
Ketua Umum Partai Golkar itu menyampaikan dirinya dipanggil oleh Presiden Prabowo Subianto ke Istana untuk membahas sejumlah agenda menjelang Hari Raya Idulfitri. Pertemuan tersebut mencakup kesiapan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan serta pasokan bahan bakar minyak (BBM).
Pembahasan juga menyinggung perkembangan ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada pergerakan harga minyak dunia. Bahlil mengatakan harga minyak sempat melonjak hingga menembus lebih dari US$ 100 per barel, namun dalam waktu singkat kembali turun ke kisaran US$ 80–90 per barel.
“Jadi memang terjadi fluktuasi yang sangat cepat,” ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan pemerintah masih mampu menanggung subsidi BBM meskipun harga minyak dunia naik akibat Perang Iran saat ini.
Ia menjelaskan kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa hari ini belum berdampak signifikan terhadap wacana perhitungan ulang postur Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Purbaya mengatakan, situasi APBN saat ini masih mampu untuk menyesuaikan kenaikan sementara harga minyak tanpa perlu mengubah kebijakan subsidi energi.
“Rata-rata setahun asumsi APBN US$ 70 per barel. Ini kan baru beberapa hari saja, jadi belum cukup untuk mengubah anggaran kita,” kata Purbaya di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (10/3).
Purbaya mengatakan dirinya masih memantau perkembangan harga minyak global dan kondisi ekonomi domestik dalam satu bulan ke depan sebelum mengkaji ulang postur APBN nantinya.
"Jadi menetapkan respon APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons pergerakan saham,” ujar Purbaya.
Purbaya pada Selasa (3/3) sebelumnya mengatakan anggaran negara saat ini masih cukup untuk menahan dampak kenaikan harga minyak hingga level US$ 92 per barel nantinya. Ia menjelaskan, pemerintah dapat melakukan penyesuaian dan pengaturan anggaran agar defisit tetap terkendali nantinya.
Berdasarkan data perdagangan berkala Bloomberg pada Selasa (10/3) sore, minyak mentah Brent melonjak 8,57% berada di level US$ 90,48 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 8,81% ke harga US$ 86,42 per barel.
Nominal harga dua jenis minyak acuan dunia itu sempat berada di atas US$ 100 per barel. Harga minyak mentah WTI pada Ahad (8/3), melonjak 18,98% menjadi US$ 108,15 per barel. Sementara, Brent naik 16,19% menjadi US$ 107,70 per barel.
